...“Kamu adalah umat terunggul (khayra ummah) yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah daripada yang munkar dan kamu beriman kepada Allah”...
-KM- Begin forwarded message: --- On Tue, 24/8/10, wanzul wan daud <
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
> wrote: From: wanzul wan daud <
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
> Subject: Fw: Two
... From: "
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
" <
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
> To:
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
;
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
;
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
;
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
;
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
;
Salam, Untuk sesiapa yang berminat. Wacana Fikir ATMA Tajuk: ?Islamisasi Ilmu Pengetahuan Semasa: Sejarah dan Perkembangannya? Pembentang: YBhg. Profesor
Utusan Malaysia 25/5/2010 Apa sebenar penarafan universiti sedunia? Oleh Prof. Dr. Arndt Graf Debat tentang penarafan universiti sedunia sedang semakin hangat,
Pemangsa Nurani Politik : Refleksi akhir tahun 1430 H-2009 M
Ditulis Oleh Hermanto Harun
Wednesday, 30 December 2009
Membicarakan dinamika politik, agaknya selalu up to
date, hangat dan mengasyikkan. Ini mengingat, isu politik seolah tidak lagi
menjadi dominasi obrolan kaum elit, walaupun, pion catur politik tetap dikuasai
dan masih dijarah oleh kaum elitis, penguasa dan politisi yang bergelimang di
lingkungan kekuasaan. Walau demikian, arena
politik tetap saja membius masyarakat awam, menghipnotis kesadaran tentang
hak-hak primer mereka yang semakin hari terus mengalami pengikisan. Alam sadar
rakyat seolah terlena oleh gempitanya reformasi, yang seakan menjanjikan
terjadinya perubahan di segala level kehidupan dalam bernegara bangsa. Meskipun
akhirnya, riuh demokrasi itu, sebagai buah tuntutan reformasi, acapkali menjadi
simalakama, bahkan menjadi senjata yang memangsa tuannya sendiri.
Memang,
riuh reformasi yang bergaung semenjak lengsernya penguasa kakap dengan rezim
Orde Baru-nya, patisipasi politik rakyat semakin mengetengah, jika dibandingkan
dengan posisi marginal di saat Orba. Akan tetapi, cita-cita reformasi yang
diharapkan mampu melahirkan kondisi yang lebih baik dan keluar dari belenggu
kekuasaan otoriter, kini seolah-olah mati suri. Rezim kekuasaan hanya berganti
baju, simbol dan performa. Sedangkan mental dan nurani penguasa bangsa tetap
berkolaborasi, bermain mata dengan ketamakan dan hedonisme yang semakin picik.
Agaknya, gelegar singkat pidato Bung Karno setelah mengucapkan proklamasi yang
mengatakan; “sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa
sendiri dan nasib tanah air di dalam tangan kita sendiri” benar-benar belum
terwujud. Atau, diartikan dengan sangat literal, bahwa benar-benar penguasa
kita sendiri yang menggantikan negara kolonial, sehingga menjajah rakyat
sendiri.
Betapa tidak, berbagai kejadian di akhir tahun 2009, menabur skeptisisme dan
ketidakpercayaan rakyat kepada penguasanya. Kasus kriminalisasi terhadap
pimpinan KPK, Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Kasus Prita Mulyasari
yang melakukan perlawanan dengan cara gerakan mengumpulkan koin. Terakhir
gelombang protes terhadap pengadilan Emak Minah yang divonis karena mencuri
tiga biji kakao. Kasus bank Century yang menelan haram uang negara. Sederetan
kasus memilukan lainnya, menjejalkan kekesalan rakyat, yang semuanya itu
menggerogoti rasa keadilan dan kenyamanan sebagai warga negara. Maka tak heran,
jika rakyat bercerita tentang bangsa, yang terlontar hanya gegap hipokritasi
pemimpin dan penguasanya.
Perjalanan tahun 2009 yang semula berisikan angan dan harapan, dimana pesta
demokrasi dengan pemilihan nakhoda institusi kekuasaan baru dalam kapal negara
bangsa, baik di eksekutif (presiden dan wakilnya) maupun di legeslatif
(DPR,DPRD) agaknya tersimpul dalam senyuman sinis. Impian perubahan, terutama
di ranah kesejahteraan rakyat, hanya mimpi indah di saat kampanye laga para
perebut kekuasaan. Semboyan “suara rakyat adalah suara tuhan” hanya ucapan
klise yang tak ubahnya riuh pasar dagang kaki lima. Karena, setelah terpilih,
para perenggut kekuasaan itu, tidak lagi sempat memikirkan konstituen
pemilihnya, mengingat pengembalian modal asupan politik merasuki setiap napas
kegelisahan. Sehingga, para penguasa yang mestinya tempat bernaung rakyat,
mengatasnamakan wakil rakyat, bertukar jubah. Jas, dasi dan lambang kekuasaan
yang biasa dipasang di samping dada mereka, menjadi elemen-elemen pongah yang
sangat haus uang rakyat. Mereka tidak segan untuk berganti kendaraan mewah,
berlagak kaum elitis yang menjarak dengan rakyat. Bahkan dunia glamour, yang
berpindah tempat tidur di berbagai hotel, menjadi berita kebanggaan. Seolah,
dengan alibi pelatihan, rapat, studi banding dan peningkatan profesionalitas,
merubah status harta kekayaan dan uang rakyat yang dititip dalam kas negara,
menjadi halal seketika.
Rumus haram dalam menilap uang rakyat hanya ada dalam narasi seremoni pidato
keagamaan. Tapi ketika sudah mengatur anggaran dan menentukan proyek
pembangunan, seolah nurani halal nyaris terusir dari ruang empati kerakyatan.
Karena, ketamakan telah menghegemoni nafsu, sealir dengan gaya parlente
kemewahan penghuni kekuasaan. Jadinya, kekuasaan menjadi tempat menguras dan
memeras rakyat. Kekuasaan tidak lagi dijadikan “kekuatan” dalam mensinergikan
kebenaran. Tapi, kekuasaan menjadi gurita penumpuk kekayaan. Mestinya,
kekuasaan merupakan kekuatan yang melindungi kebenaran, sehingga memproduksi
keadilan. Dari itu, “jika kekuasaan yang tidak bergandeng kebenaran, maka
menjadi kekuatan yang penuh kezaliman. Sedangkan kebenaran yang tidak
diproyeksikan oleh kekuasaan, hanya menjadi slogan yang hampa keyakinan”.
Berbagai kisah dan rentetan peristiwa “miris” yang merentas di tahun 2009,
seakan signal dari potret tidak seiramanya kekuatan dan kebenaran itu. Sehingga
adegan-adegan perilaku politisi, penegak hukum, para penguasa negeri ini sudah
tidak lagi beranjak dari sensitifitas nurani. Jika demikian, akankah bangsa ini
terjerembab ke dalam realitas negara gagal? Karena menurut Rotberg dalam The
New Nature of Nation-State Failure, menyebutkan, bahwa sindrom negara
gagal, antara lain, berupa keamanan rakyat tidak bisa dijaga, konflik etnis dan
agama tak kunjung usai, korupsi merajalela, legitimasi negara yang kian
terpuruk, ketidakberdayaan pemerintah pusat dalam menghadapi masalah dalam
negeri, serta ketidakmampuan negara dalam menghadapi intervensi dan tekanan
(negara) asing.
Suatu kreteria yang tidak mudah untuk mengakui pengistilahan “negara gagal”
Rotberg di atas. Walaupun, untuk menafikan secara general tidak lah tepat.
Karena berbagai tragedi politik bangsa tahun 2009 menjadi realita yang tengah
bersaksi. Kejadian-kejadian politik yang berwujud tragis dalam negara, akan
menjadi abadi dalam memori rakyat. Segala peristiwa mengerikan dan menggelikan,
yang terungkap dalam dramatika politisasi rakyat hendaknya segera diakhirkan.
Kalau tidak, maka perjalanan sejarah tidak akan merubah cerita gemilang untuk
masa depan.
Harus diakui, bahwa perjalanan roda politik kekuasaan 2009 yang bernaung di
bawah adagium demokrasi, masih menyisakan banyak catatan kealfaan. Catatan itu
dinodai oleh ketidaksadaran penguasa dan rakyatnya sekaligus, terhadap tugas
dan tujuan politik. Sehingga demokrasi yang menjadi mimbar ekspresi politik,
semula diimpikan untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan, ternyata hanya
melahirkan pemangsa-pemangsa nurani politik itu sendiri. Nurani politik
akhirnya terkalahkan oleh sikap oportunistik di medan laga demokrasi. Sehingga
hamparan demokrasi berubah menjadi papan catur politisi dan dagelan penguasa
dalam mengutak-atik kepentingan kesejahteraan rakyatnya.
Ala kulli hal, apapun kata dan kejadian masa lalu, semua itu telah
menjadi milik sejarah masa silam. Segala prestasi masa lalu, adalah kreasi yang
sepatutnya diperjuangkan. Adapun segala kegagalannya, harus dijadikan imunitas
keinsyafan. Karena meratapi diari tragis masa silam, juga bukanlah sikap
bijaksana, mengingat kejadian masa lampau adalah suatu yang sangat jauh dalam
realitas kehidupan kekikinan. Akan tetapi, jadikan itu ibrah berharga, bahwa
sejarah merupakan tempat berhubungnya masa lalu dengan masa kini. Maka siapa
yang tidak memiliki masa silam, maka tentu tidak ada banginya masa sekarang.
Akhirnya, semangat tahun baru akan penuh nilai jika berhijrah dari kejahatan
menuju kebaikan. Berpindah dari lumur dosa menuju keinsyafan. Fal-tanzur
nafsu ma qaddamat lighad, lihatlah masa lalu untuk tatapan kebaikan hari
esok. Wallhu’alam.
*Dirktur Forum for Studies of Islamic Thought and Civilization (FISTāC) &
Dosn FAK Syariah IAIN STS Jambi.