...“Kamu adalah umat terunggul (khayra ummah) yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah daripada yang munkar dan kamu beriman kepada Allah”...
-KM- Begin forwarded message: --- On Tue, 24/8/10, wanzul wan daud <
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
> wrote: From: wanzul wan daud <
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
> Subject: Fw: Two
... From: "
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
" <
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
> To:
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
;
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
;
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
;
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
;
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya
;
Salam, Untuk sesiapa yang berminat. Wacana Fikir ATMA Tajuk: ?Islamisasi Ilmu Pengetahuan Semasa: Sejarah dan Perkembangannya? Pembentang: YBhg. Profesor
Utusan Malaysia 25/5/2010 Apa sebenar penarafan universiti sedunia? Oleh Prof. Dr. Arndt Graf Debat tentang penarafan universiti sedunia sedang semakin hangat,
Profesor Dr Wan Mohd Nor Wan Daud: Akhlak Mulia Lewat Islamisasi Ilmu
Ditulis Oleh REPUBLIKA
Thursday, 02 April 2009
REPUBLIKA Rabu, 11 Februari 2009
Dekadensi
moral pada zaman modern ini sudah mencerminkan kehidupan jahiliyah. Manusia di
dunia kini merasa modern, tapi penuh kebodohan dalam memahami hakikat hidup. Akhlak
di berbagai negara yang berpenduduk mayoritas Muslim juga ikut rusak. Salah
satu penyebabnya, yakni tidak diaplikasikannya ajaran Islam dengan baik. Itu
terjadi karena pendidikan yang jauh dari nilai Islami.
Profesor pakar pendidikan asal Malaysia, Prof Dr Wan Mohd Nor Wan Daud,
mengajak semua kaum Muslimin untuk kembali mengamalkan nilai-nilai Islam.
Setiap orang tidak harus mengubah profesinya untuk menjadi ustadz atau kiai.
Tapi, tetap berprofesi sesuai bidang yang digelutinya dengan menerapkan nilai Islam
sehingga berakhlak mulia. Konsep Islamisasi ilmu ini tidak hanya bisa
diterapkan oleh umat Islam. Masyarakat non-Muslim pun bisa menyerapnya.
Akhir Januari
lalu, wartawan Republika, Arie Lukihardianti, sempat mewawancarai
guru besar, aktivis, motivator, dan penyair ini saat singgah di kompleks Masjid
Salman Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam safari diskusi, seminar, dan
kuliah umumnya di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Anda sebenarnya ilmuwan biologi. Mengapa tertarik pada ilmu Islam?
S1 saya memang mengambil biologi. Setelah tamat, mengajar jadi guru biologi di
sekolah khusus di Malaysia. Namun, S2 saya menyambung ke ilmu pendidikan.
Khususnya, dalam bidang kurikulum dan pengajaran. Saya juga aktif memahami
ajaran Islam. Tapi, saya mendalami masalah ilmu pendidikan itu tidak secara
mutlak. Jadi, belajar ke salah satu dosen saat di Chicago, USA. Di Chicago,
saya belajar bahasa Arab, Parsi, Jerman, dan Perancis.
Mengapa ingin memperdalam Islamisasi ilmu?
Saya anggap itu sebagai tanggung jawab seorang cendekiawan Muslim yang mau
menyumbang bagi bangsanya. Soalnya, kita sebagai umat Muslim harus belajar
Islam dengan baik. Saya memperdalam pelajaran Islam ini sebagai tanggung jawab
pribadi. Agar, bisa menjadi seorang guru yang benar-benar baik.
Tapi, konsep mengenai Islamisasi ilmu yang dikembangkan di Salman (Masjid
Salman ITB) ini saya pahami kemudian, sebagai usaha pribadi saya. Karena,
sependapat dengan buku yang dibuat oleh salah satu guru besar di ITB, yaitu Antara
Bangsa Pemikiran dan Umat Islam.
Konsepnya Islamisasi ilmu ini berbeda dengan Arabisasi? Bisa Anda jelaskan?
Memang, Islam bermula dari kandungan bahasa Arab. Islam adalah agama yang
alami, bisa masuk ke seluruh dunia, bangsa, dan bahasa. Untuk setiap bangsa
yang ingin memahami agama Islam, memang harus memahami bahasa Arab saat
mempelajari kandungan ayat Alquran. Tapi, Islamisasi bukan Arabisasi.
Islamisasi tidak sama dengan pengaraban. Walaupun untuk mengamalkan Islam tidak
jauh dari budaya Arab, tapi bukan berarti budaya Arab yang dipahami itu Islam.
Jadi, maksudnya Islamisasi ilmu itu bagaimana?
Kita bisa memberdayakan bahasa dan budaya lokal. Tanpa harus berbudaya sama
dengan Arab, kita bisa mengangkat aspek-aspek budaya lokal ke tingkat yang
lebih tinggi. Tentunya, dalam kerangka pandangan alam, akhlak, dan
undang-undang Islam itu. Contoh, kalau Islam datang ke budaya lain, memang
kosakata Arab dimasukkan, misalnya, istilah Allah, nabi, kitab, kertas, akal,
zikir, dan pikir.
Tapi, Islam tidak menghapuskan bahasa-bahasa lokal. Bahkan, mengekalkan bahasa
lokal dan mengangkat ke taraf yang lebih tinggi. Misalnya, surga, neraka,
pahala, guru, asrama, jiwa, dan budi, itu semua bahasa Hindu dan Budha. Tapi,
Islam memasukkan pada kerangka alam bahkan mengangkat kata itu lebih tinggi
sebagai makna baru.
Selain bukan Arabisasi, menurut Anda Islamisasi ilmu juga bukan anti-Barat?
Islamisasi ilmu tidak berbeda dengan menolak budaya Barat. Tapi, Islamisasi
ilmu justru memasukkan berbagai hal penting di budaya Barat ke dalam pandangan
kita. Tentunya, harus dalam rangka membentuk akhlak dan syariat Islami.
Misalnya, dalam demokrasi kan ada asas kemanusiaan. Hak asasi manusia
(HAM) sebenarnya datang dari Barat. Namun, dalam mengaplikasikan HAM tetap
harus sesuai dengan Islam. Contohnya, keadilan pada wanita dalam Islam
berpikirnya dalam kerangka keluarga. Namun, bagi Barat keadilan untuk wanita
tidak berpikir dalam kerangka keluarga.
Dia tertarik mendalami Islamisasi ilmu ini sampai 1988. Kemudian, pindah ke
Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) sebagai dosen. Memegang jabatan sebagai
peneliti utama dan memimpin perbedaan epistemologi dan teori Melayu.
Karya intelektualnya, antara lain, terwujud dalam 13 judul buku dan lebih dari
30 artikel di jurnal lokal dan internasional.
Beberapa buku dan artikelnya sudah diterjemahkan ke bahasa Malaysia, Indonesia,
Turki, Jepang, Persia, Russia, Bosnia, dan Macedonia.
Kalau tentang konsep demokrasi sendiri bagaimana?
Di ilmu Islam, demokrasi juga baik, tapi tidak mutlak mengadopsi semua konsep
yang dibuat Barat. Demokrasi harus ada batasannya. Misalnya, kalau rakyatnya
bodoh dan jahat saat pemilihan umum (pemilu), di Islam suara orang bodoh tidak
sama dengan ulama. Jadi, di Islam demokrasi konsepnya harus syuro (orang yang
berilmu dan berakhlak). Suara syuro lebih afdol daripada suara terbanyak.
Di Islam, hak yang bijak berbeda dengan suara masyarakat banyak. Saat
pemilihan, yang dihitung bukan suara orang. Antara suara kiai dan maling, kalau
demokrasi Barat perhitungannya sama. Padahal, di Islam seharusnya suara ulama
berbeda dengan yang bodoh.
Jadi, demokrasi dalam Islam harus dimasukkan seperti itu. Islamisasi, walaupun
mengacu pada pemahaman barat, tapi harus sesuai dengan pemahaman Islam.
Bisa dijabarkan konsep Islamisasi sendiri seperti apa?
Islamisasi bukan kaidah epistemologi yang bersifat eksklusif yang negatif, tapi
inklusif yang berprinsip. Semua bangsa bisa mengambil ide-ide agama Islam untuk
disesuaikan dengan kondisi bangsanya.
Jadi, Islamisasi ilmu ini tidak hanya bisa mengambil aqidahnya. Semua bangsa
bisa mengambil nilai Islami yang terbaik bagi bangsanya. Misalnya, negara
Jepang dan Spanyol bisa menerapkan nilai Islam ini tanpa memusuhi konsep Barat.
Tapi, kan pemahaman tentang Islam berbeda-beda dengan banyaknya aliran.
Agar pemahaman Islamisasi ilmu sama bagaimana?
Islam harus dijadikan sebagai akarnya ilmu. Semua masalahnya, misalnya ekonomi
dan perbankan, harus dipelajari oleh orang-orang yang benar-benar paham
terhadap ilmu itu. Masalah perbankan harus diajarkan oleh orang yang
benar-benar paham terhadap perbankan. Begitu juga, dengan ilmu syariah dan
tasawuf.
Jadi, tidak sembarang orang bisa mengajarkan ilmu-ilmu itu. Mereka harus
terlatih dalam bidangnya sehingga ilmu Islam, misalnya akhlak dan tasawuf bisa
dijelaskan juga.
Apa yang menyebabkan pemahaman tentang Islam berbeda?
Perpecahan yang sekarang ada merupakan perbedaan yang tidak baik. Perbedaan itu
terjadi karena pendapat yang berbeda tentang Islam. Padahal, Islam bersifat
global serta berlaku di seluruh bangsa.
Memang, Islam suatu sejarah yang besar. Kalau ajaran yang sudah ribuan tahun
ada dirombak begitu saja, akan terjadi perbedaan paham. Oleh karena itu, yang
mengajarkan paham Islam harus benar-benar orang yang menguasai ajaran Islam.
Karena, seharusnya paham Islam itu secara global di seluruh dunia, sama.
Apa kendala untuk mengislamisasikan ilmu?
Pertama, ada pemahaman yang keliru di umat Islam tentang apa itu ilmu. Mereka
keliru tentang makna ilmu dan tujuan pendidikan. Ilmu dan opini disamaratakan. Opini,
mereka bilang ilmu.
Apa yang disepakati dan pendapat seseorang tentang sesuatu seharusnya
dibedakan. Tapi, sekarang disamaratakan, dianggap sebagai sebuah ilmu. Asal
ilmu itu disampaikan oleh Barat, misalnya Inggris dan Belanda, akan dianggap
sebagai kebenaran. Padahal, ilmu tersebut banyak yang hanya berupa teori,
dugaan, atau hipotesis.
Bisa Anda sebutkan ilmu apa yang seperti itu?
Salah satunya ilmu psikologi. Di teori psikologi, yang diletakkan sebagai
kebenaran manusia itu hanya jasad, emosi, dan meninggal. Tapi, ruhnya tidak
dianggap ada. Ruh itu, menurut teori psikologi, akan hilang kalau tubuh hilang.
Jadi, konsep yaumil akhirat tidak diterapkan. Padahal, itu salah, tapi
dianggap sebagai kebenaran yang mutlak.
Berarti umat Islam selama ini disesatkan?
Ya, betul untuk ilmu psikologi. Tapi, tidak semua ilmu yang datang dari Barat
salah semua. Pada umumnya, ilmu yang disesatkan biasanya berkaitan dengan ilmu
ruh manusia. Karena, mereka menyoroti cuma jasadi tidak rohaniah.
Kalau konsep Islamisasi ilmu ini diterapkan, bisa jadi alternatif paham
baru?
Saya tegaskan sekali lagi, Islamisasi bukan anti-Barat atau anti yang bukan
Muslim. Tapi, Islamisasi untuk mengukuhkan identitas umat Islam sedunia. Untuk
memperkaya pengalaman keagamaan, akhlak, dan kemanusiaan masyarakat dunia.
Juga, membentuk keluarga Islami. Sehingga, bisa menjadi politik yang Islami.
Islamisasi akan mengislamkan akhlak semua manusia bukan hanya cerdas karena
mempelajari buku teks. Jadi, Islamisasi akan mengubah ilmu, akhlak, dan peradaban.
Karena, tujuan Islamisasi untuk mengislamkan akhlak agar jadi mulia.
Jadi, dengan kata lain, cerdas secara keilmuan tidak cukup?
Ya, kalau hanya cerdas menguasai ilmu bidang tertentu itu belum sempurna.
Misalnya, dia tahu ilmu tentang akhlak baik pada manusia. Tapi, dia tidak baik
pada pencipta-Nya. Maka itu, hanya menjadi habluminannas (hubungan
dengan manusia), tapi bukan habluminallah (hubungan dengan Allah SWT).
Kalau dia baik dengan membantu masyarakat miskin, tapi tidak mengakui
pencipta-Nya sendiri, tetap sudah melakukan kekhilafan.
Kekeliruan besar yang menjangkiti orang terpelajar, mereka keliru bukan karena
bodoh. Melainkan, ada fakta yang benar disalahtafsirkan oleh mereka.
Bagaimana mengaplikasikan Islamisasi ilmu, apa harus membuat kurikulum
khusus?
Memang dalam jangka waktu terbatas lima tahun, pendidikan itu tidak akan bisa
membuat seseorang menjadi ulama. Kita pun tidak seharusnya membuat seorang
menjadi kiai. Tapi, sudah seharusnya semua profesi dipegangi dengan ilmu agama
yang mantap. Misalnya, menjadi dokter harus juga memahami Alquran, ilmu hadis,
syariah, dan akhlak, sehingga bisa untuk mewarnai dan mengaplikasikan amal
mereka.
Kalau pemahaman Barat ada yang baik, umat Islam mau memasukkan dan
mengintegrasikan pun tidak apa-apa. Asal, payung yang digunakan tetap harus
Islami.
Dari mana memulai untuk mengaplikasikan Islamisasi ilmu?
Pusat paling strategis untuk Islamisasi ilmu ada di perguruan tinggi. Memang,
kita menganggap TK sampai SMA juga penting. Tapi, kan mereka sebenarnya
bergantung pada guru-guru yang mengajar mereka. Guru yang mengajar TK sampai
SMA, semuanya produk dari perguruan tinggi. Penulis-penulis buku pun kebanyakan
dibuat oleh (lulusan) perguruan tinggi. Jadi, walaupun targetnya sekolah dasar,
yang harus diubah pertama adalah guru-gurunya. Semua
ambiya harus mendidik golongan dewasa itu.
Setelah menyelesaikan pendidikan S2 di The University of Chicago (AS), Prof
Wan Mohd Nor diundang oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas untuk mendirikan
International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC). Organisasi ini
memberikan pendidikan formal dan nonformal, termasuk menyediakan berbagai
referensi bacaan untuk mahasiswa. Dari
1998-2002, dia menjabat deputy director of ISTAC. Hingga saat ini, dia masih
menjadi peneliti di Institute of the Malay World and Civilization (ATMA),
National University of Malaysia (UKM) di Bangi.
Banyak orang yang fobia terhadap Islam. Bagaimana untuk menepis itu?
Mereka harus tahu, Islamisasi ilmu bukan berarti meninggalkan ilmu-ilmu yang
dibawa oleh non-Islam. Pikiran fobia sendiri muncul karena tiga penyebab.
Penyebab pertama, mereka mempelajari perilaku Islam dari guru-guru yang
mempelajari Islam dengan sempit, sehingga menimbulkan pemahaman yang keliru dan
ketakutan. Kedua, dia tahu mengenai Islam, tapi tidak mau mengaplikasikannya.
Jadi, dia tahu Islam itu baik, tapi tidak mau karena berkaitan dengan masalah
akhlak yang dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi, politik, dan lain-lain.
Penyebab ketiga, dia tahu, dia mau, tapi memiliki masalah yang kompleks pada
agamanya dan terhadap paham lain.
Tiga alasan itu menyebabkan seseorang menjadi fobia terhadap Islamisasi.
Pertama, kejahilan; kedua, tidak jahil, tapi tidak mau; ketiga, dia tidak
jahil, mau, tapi punya masalah, misalnya kalau menerapkan konsep Islam orang
menganggap rendah dan sebagainya.
Apakah konsep Islamisasi ilmu ini sudah berjalan di Malaysia?
Proses Islamisasi di Malaysia memang mulai berlaku dalam hal tertentu, karena
politik kerajaan di Malaysia memberikan perhatian khusus pada masalah
pendidikan. Saya lihat di Indonesia pun usaha-usaha untuk menerapkan pandangan
Islam sudah ada. Namun, memang Malaysia lebih memperhatikan pendidikan Islami
ini. Misalnya, dalam hal yang melanggar tata krama.
Kalau pejabat itu beragama Islam, mereka wajib merencanakan kemajuan Islamisasi
ilmu yang akan berdampak pada akhlak masyarakatnya. Tapi, dalam menerapkan konsep
Islamisasi ilmu itu tidak boleh mencampakkan hak orang yang bukan Islam. Mereka
harus diperlakukan seadilnya. Namun, jangan sampai untuk menjaga hak non-Islam,
hak orang Islam sendiri malah dikorbankan.
Masyarakat non-Islam sendiri tidak perlu khawatir dengan Islamisasi ilmu?
Islam menolak aliran sekulerisasi yang mengikis habis makna manusia dari
politik dan kemanusiaan. Sebenarnya, paham sekulerisasi ini musuh bagi semua
agama. Kalau Islamisasi berjalan baik, semua umat apa pun agamanya akan
mendukung. Kalau Islamisasi sukses, akan menjamin umat Islam lebih berakhlak
dan akan lebih menjamin hak-hak ekonomi serta politik semua umat, termasuk
non-Muslim.
Kalau memiliki akhlak yang baik dan bisa menjaga hati nurani, masyarakat tidak
akan memilih pemimpin yang rusak. Maka itu, semua negara akan dipimpin oleh
pemimpin yang baik.