Khairaummah mailing list
  • (no subject)
    Afwan kirim konfirmasi dari facebook faza fatiha
  • Fwd: Two Moons on 27th August 2010
    -KM- Begin forwarded message: --- On Tue, 24/8/10, wanzul wan daud < Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya > wrote: From: wanzul wan daud < Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya > Subject: Fw: Two
  • Fw: Undangan ke Siri Wacana ATMA
    ... From: " Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya " < Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya > To: Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya ; Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya ; Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya ; Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya ; Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya ;
  • Wacana Fikir ATMA 8 Julai
    Salam, Untuk sesiapa yang berminat. Wacana Fikir ATMA Tajuk: ?Islamisasi Ilmu Pengetahuan Semasa: Sejarah dan Perkembangannya? Pembentang: YBhg. Profesor
  • Artikel tentang Penarafan Universiti
    Utusan Malaysia 25/5/2010 Apa sebenar penarafan universiti sedunia? Oleh Prof. Dr. Arndt Graf Debat tentang penarafan universiti sedunia sedang semakin hangat,
Infoteks

Mari boikot produk 
Israel/Yahudi
Hentikan menyokong kekejaman
Israel terhadap umat Islam
 
"it is an obligation not to help them
(the enemies of Islam) by buying
their goods. To buy their goods
is to support tyranny, oppression
and aggression" -Yusuf al-Qardawi
 
 






Ingin mengiklankan aktiviti / produk anda di sini? sila hubungi kami... email: arief_rf@yahoo.com

Ruangan forum dan komen artikel telah dibuka untuk semua pengunjung. Sila gunakan ruang tersebut dengan sebaiknya.  

Admin



Ingin menulis di laman web ini?

Pelawat yang telah berdaftar akan dinaik-taraf sebagai penulis oleh admin. Sebagai penulis, menu hantar artikel akan wujud di bahagian menu pengguna. Artikel yang dihantar akan disemak oleh editor dan diluluskan untuk terbit sekiranya memenuhi kriteria laman web ini.

Pelawat juga boleh menghantar artikel ke arief_rf@yahoo.com




Seksyen
Fikih Kebangkitan
Tamadun Islam
Pemikiran Islam
Dunia Islam
Tokoh Islam
Hawa
English Section
Puisi
Ulasan Buku
Mailing List
klik di sini untuk menyertai mailing list khairaummah
Web Pilihan
Dokumentari Islam
JIM
ABIM
Al-Ahkam
Harakah
JAKIM
Halal?
Happiness in Islam
Khalif Muammar
IslamOnline
Halaqah
Epistemologi Melayu
Lawatan
Hari ini: 9
Semalam: 63
Sebulan: 1118
Jumlah: 95685
Maks sehari: 291
Maks sebulan: 5822
Kiraan Sejak: 2008-08-07
Totals Top 10
 62 % Malaysia (60833)
 18 % Indonesia (17644)
 5 % United States (4432)
 2 % Japan (2163)
 2 % China (2092)
 < 1.0 % Germany (1234)
 < 1.0 % Unknown (1003)
 < 1.0 % United Kingdom (880)
 < 1.0 % Singapore (834)
 < 1.0 % Russian Federation (669)
95685 visits from 132 countries
Trafik
Islamictube
boycott_israel_275x275.gif
Pelawat
Locations of visitors to this page
Statistik
Ahli: 533
Artikel: 294
Pautan: 5
Pengunjung: 515635
MENUJU ERA BARU DALAM PERGERAKAN ISLAM PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 6
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Dr Khalif Muammar   
Wednesday, 07 January 2009
 Wacana kebangkitan Ummah sering dilontarkan oleh para cendekiawan Muslim dan ide-ide yang diberikan selalunya berbeda dan bahkan kadang-kadang bertolak belakang. Memang terlalu banyak masalah umat Islam ini, maka solusi untuk berbagai permasalahan itu tentunya beragam juga. Apakah ada jalan untuk menggabungkan ide-ide tersebut dan bagaimanakah kita dapat secara cerdas menanggapi dan melaksanakannya? Walaupun sudah lebih seratus tahun wacana kebangkitan Ummah (al-sahwah al-Islamiyyah) dikumandangkan, namun umat Islam masih lemah, mundur dan ketinggalan. Mengapakah nasib umat ini masih tidak berubah? Mengapakah usaha-usaha umat ini sering menemui kegagalan? Mungkinkah ada sesuatu yang perlu dibereskan sebelum perubahan dan kemajuan hakiki benar-benar dirasakan?

 

Memahami Masalah Umat

Sejarah adalah rakaman memori yang menentukan identitas bangsa atau umat. Tanpa memori yang betul maka akan sangat sulit sesuatu bangsa mengekalkan identitasnya. Tanpa identitas yang jelas pula sesuatu bangsa atau umat tidak akan mempunyai masa depan yang cerah. Masyarakat akan  tidak mengerti sejarah dan keliru tentang identitas mereka jika banyak fakta-fakta sejarah telah diselewengkan baik oleh penjajah untuk kepentingan imperialisme mahupun penguasa bangsa untuk kepentingan status quo. Penyelewengan sejarah ini menyebabkan kekaburan identitas sesuatu bangsa sekaligus kekaburan masa depannya.

    Hakikatnya sejarah mencatat bahwa bangsa ini telah memilih Islam sebagai agama dan cara hidup mereka selama lebih kurang seribu tahun. Malangnya hari ini warisan Islam telah dipinggirkan dan sebaliknya warisan Hindu yang sering dipuja dan diperbesarkan. Seharusnya Islam dan warisan Islam yang mendapat tempat istimewa dalam sejarah dan identitas bangsa ini. Penekanan kepada unsur-unsur Hinduisme ketika orde baru menyebabkan unsur-unsur keislaman menipis. Kebanggaan kepada warisan Hindu disebarluaskan sedangkan pengaruh Islam diperkecil dan sumbangan Islam dalam membangunkan bangsa ini dianggap nihil. Padahal Hinduisme tidak pernah memberikan cahaya ilmu dan keluhuran tamadun kepada bangsa Indonesia seperti yang dilakukan oleh Islam.  Maka lahirlah generasi yang mengalami krisis identitas. Generasi yang tidak bangga dengan identitas Islamnya dan tidak juga bangga dengan identitas ke-Indonesiaannya. Mereka hanya mengenal dan memandang tinggi modernitas yang disuguhkan oleh tamadun Barat tanpa mengetahui bahwa modernitas tersebut telah diadaptasi dari tamadun Islam. Generasi seperti ini akan dicengkam rasa rendah diri kepada bangsa asing terutama bangsa Barat yang pernah menjajah mereka ratusan tahun. Ia menjadi generasi yang rela menghambakan diri kepada bangsa lain.

    Kekeliruan identitas ini mengakibatkan kekeliruan epistemologi. Pemikiran umat kian terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran yang berlawanan dengan pandangan alam (worldview) Islam. Baik pemikiran sekular-liberal yang diadaptasi dari Barat  maupun pemikiran-pemikiran sesat yang tidak mempunyai kerangka pemikiran yang kukuh sering menguak kedepan dan pemikiran benar yang bersumberkan Islam kian tenggelam. Arus sekularisasi, modernisasi dan globalisasi yang deras ini telah menghanyutkan banyak golongan termasuk golongan cendekiawan sendiri yang seharusnya berfungsi mencerahkan umat.




Apa di Sebalik Bangsa yang Lemah dan Umat yang Mundur?

Dengan rahmat dan kebijaksanaan Allah swt para nabi diutus dengan risalah tawhid. Tawhid tidak hanya berfungsi sebagai suatu kredo tetapi sebagai liberating force (wahana pembebasan). Misi nabi Musa bukan hanya menyampaikan mesej Allah tetapi juga membebaskan Bani Israil dari belenggu penindasan Firaun. Bangsa tersebut  telah mengalami penghambaan (isti'bad), pembodohan (istikhfaf) dan subjugasi (istid'af). Firaun telah memperbodohkan umatnya dengan mengaku sebagai Tuhan (fastakhaffa qawmahu).  Dia lalu memaksa dan menindas bangsanya untuk tunduk dan patuh hanya kepadanya (alladhinastud'ifu).  Maka melalui tawhid Islam berperan memerdekakan manusia dari segala bentuk belenggu untuk kemudian menjadikan sesuatu bangsa itu bertamadun dan memimpin dunia. Jadi tawhid dalam Islam adalah antitesis penindasan, pembodohan dan subjugasi. Dalam hal ini, ucapan masyhur Sayyidina Umar yang menentang penindasan amat jelas: “sejak bilakah kamu punya hak untuk memperhambakan manusia sedangkan mereka telah dilahirkan oleh ibu-ibu mereka sebagai manusia merdeka”.

    Penindasan apapun bentuknya akan melemahkan sesuatu bangsa dan umat. Al-Kawakibi (1855-1902) melalui bukunya Taba'i al-Istibdad telah menentang keras pemerintahan despotik, kuku besi yang dilakukan oleh pemerintah di zamannya. Al-Kawakibi, yang terpaksa menulis buku tersebut tanpa memberikan nama sebenarnya, mengatakan bahwa masalah utama umat Islam ketika itu yang menyebabkan umat Islam semakin mundur dan lemah adalah pemerintahan absolutis (al-istibdad al-siyasi).  Tetapi penindasan adalah sesuatu yang biasa berlaku dalam sejarah. Atas dasar ini Ibn Khaldun, jauh sebelum Lord Acton, menegaskan bahwa penguasa, secara tabiinya, cenderung menindas.  Tetapi Ibn Khaldun kemudian memberi solusi bahwa hanya apabila pemerintahan benar-benar berdasarkan kepada agama maka penindasan tidak berlaku. Karena itu apabila Islam tidak memisahkan politik dari agama ia menginginkan agar kuasa perlu berada di tangan orang yang beradab. Karena orang yang beradab tidak akan melakukan “abuse of power”.

    Realitasnya penindasan dan neo-imperialisme masih berlaku sehingga ke hari ini. Kapitalisme sering dikaitkan dengan imperialisme moden di mana kekayaan sumber alam dan sumber manusia dari negara-negara miskin diekploitasi untuk kepentingan golongan kapitalis dengan mengorbankan keseimbangan alam sekitar dan kesejahteraan sosial. Kuasa Barat menyokong penguasa-penguasa despotik dan absolutis dunia Islam. Ini karena kemunduran dunia Islam dan kebergantungan para penguasa kuku besi ini akan menguntungkan Barat. Jelasnya kuasa besar tidak akan membiarkan umat Islam sepenuhnya merdeka dan maju.
 
    Indonesia adalah antara negara yang kaya dengan sumber asli dan memiliki sumber manusia yang dapat menggoncangkan dunia. Ironisnya kekayaan sumber alam dan sumber manusia ini tidak meletakkan bangsa ini di antara bangsa yang berpengaruh di dunia.  Setelah lebih setengah abad para penguasa gagal mengurus dan memimpin bangsa ini dengan baik dan amanah adalah antara penyebab bangsa ini kian terpuruk.  Di samping kegagalan penguasa ada beberapa perkara yang menyebabkan sesuatu bangsa terus lemah:

1.    watak pasrah
2.    watak submissif

    Tidak sedikit yang memberi jawapan bahwa punca kemunduran umat Islam adalah permasalahan dalam aspek politik dan ekonomi. Tidak sedikit juga yang berpandangan bahwa  segala permasalahan umat akan selesai jika berlaku peralihan kuasa atau kuasa ekonomi berada di tangan umat Islam. Ini adalah jawapan yang mudah dilontarkan dan mudah difahami oleh masyarakat luas. Tetapi ia juga adalah jawapan yang agak dangkal (sathiyyah), tidak historis dan tidak mengakar. Mencari kesalahan pada satu pihak yang paling tampak di permukaan adalah langkah yang paling mudah dan senang. Sebenarnya jika diteliti dengan mendalam, akan jelas bahwa apa yang dilihat hanyalah yang wujud dipermukaan sedangkan yang keadaan yang sebenarnya  adalah jauh lebih serius dan mendalam.

    Berangkat dari premis yang ditegaskan dalam al-Qur’an bahwa nasib suatu umat tidak akan berubah melainkan umat itu merubahnya sendiri , kita perlu melihat bahwa mungkin al-Qur'an ingin memberikan isyarat perlunya sesuatu dilakukan terhadap watak umat Islam. Karena kejadian manusia tidak dapat dirubah, yang menjadi kendala kepada perubahan yang didambakan adalah diri terutamanya pemikiran dan jiwa sesuatu bangsa. Keadaan diri ini apabila terpahat sekian lama akan mencipta watak yang tersendiri. Di sinilah kita akan  melihat kepada psyche (watak) bangsa Melayu-Indonesia yang terjadi hasil dari proses sejarah yang cukup lama.     

    Memang tidak banyak orang yang berani melihat kekurangan dan keburukan sendiri, oleh itu, memahami dan berani mengakuinya untuk kemudian melakukan perubahan adalah suatu keberanian. Dalam al-Qur'an Allah swt menjelaskan bahwa apapun tragedi yang menimpa kita adalah ulah kita sendiri:

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan badar) kamu berkata: "dari mana datangnya (kekalahan) ini?" katakanlah: "itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu.” (surah Ali ‘Imran: 165).

    Ayat di atas memberikan asas dalam memahami suatu fenomena sosial khususnya jatuh bangun suatu bangsa dan tamadun. Sesuatu perkara itu berlaku tidak dengan sendirinya tetapi atas sebab tertentu. Kausalitas ini mestilah bersifat rasional dan historis sehingga dapat diterima oleh akal sehat. Adalah tugas para pemikir dan sosiologis Islam untuk mengetahui sebabnya dan bagaimanakah cara untuk mengatasi suatu masalah dengan bersandarkan kepada kefahaman yang betul terhadap punca dan hakikat sebenar masalah tersebut. Jadi dalam menganalisa masalah kemunduran umat Islam persoalan yang perlu dikemukakan bukan siapakah yang bertanggung jawab? Tetapi dimanakah sebenarnya letak kesilapan umat Islam? Apakah sebenarnya masalah umat Islam? (what's wrong with the Muslims?)

    Terdapat beberapa kajian yang dilakukan oleh beberapa sarjana bahwa umat Islam memiliki watak pasrah, berjiwa submissif dan berfikiran tawanan (the captive mind). Syed Husein al-Attas menegaskan bahwa dalam masyarakat membangun hari ini yang telah lama bebas dari penjajahan dan ramai cerdik pandai tetapi kewujudan intelektual sebenar hampir tidak ada sama sekali yang berpengaruh malah “orang pandir” sehingga bangsa gagal menyelesaikan masalahnya.  Pandangan beliau ini tentu bukan hanya berkaitan pemikiran dan intelektualisme tetapi juga kejiwaan bangsa tersebut karena keduanya saling berkaitan. Malik Bennabi pula menegaskan bahwa colonisibility (al-qabiliyyah li al-isti'mar), kecenderungan untuk dijajah, yang menjadi punca penjajahan berlaku sekian lama terhadap umat Islam.  Kelemahan dalaman ini terjelma dalam sikap terlalu kagum terhadap Barat, menganggap segala apa yang datang daripada Barat adalah yang terbaik. Kekaguman yang keterlaluan ini datang karena mereka menganggap diri mereka kecil, dan perasaan kerdil ini lahir setelah sekian lama diperkecilkan. Maka watak orang yang dijajah, baik kesan dari penjajahan tradisional ataupun penjajahan baru (neo-imperialisme), adalah suka mengikut penjajah, sehingga dalam menyelesaikan masalah sendiri pun kaedah dan parameter yang digunakan selalunya diambil dari penjajah.

    Watak sesuatu bangsa benar-benar wujud. Kita melihat bagaimana sesuatu bangsa secara kolektif mempunyai keyakinan dan kepercayaan (confidence) pada diri (bangsa) sendiri. Mereka berfikir bersama, merasakan kepahitan bersama, mempunyai semangat bersama dan rasa bangga terhadap pencapaian bangsa. Begitu juga sebaliknya, atas faktor-faktor tertentu, sesuatu bangsa dapat kehilangan rasa yakin dengan kemampuan bangsa, bangga dengan pencapaian bangsa, semangat untuk membangunkan bangsa sendiri. Semua ini berlaku dalam proses yang panjang, dan kondisi sosio-politik sesuatu masyarakat banyak mewarnainya. Tentunya keadaan bangsa yang selalu diperhambakan, diperkecilkan, dan mengalami pembodohan untuk sekian lama banyak mempengaruhi watak negatif ini.

    Pemerintahan feudal Hindu-Budha selama sekitar dua ribu tahun sebelum kedatangan Islam tentu memberi kesan yang mendalam ke atas watak dan identitas bangsa. Hanya setelah beberapa abad Islam masuk penjajah pula datang untuk merampas kemerdekaan bangsa ini. Penjajahan juga berperan menindas dan memeras rakyat untuk kepentingan kompeni. Setelah Indonesia merdeka, seperti dinyatakan oleh Rendra, ia diperintah oleh penguasa-penguasa di kalangan bangsa sendiri yang mengikut model dan cara pemerintahan penjajah. Justeru itu, pemerintahan diktator dan otoriter pada zaman orde lama dan orde baru tidak memulihkan watak pasrah dan watak submissif bangsa ini. Malah tanpa disadari gaya pemerintahan ini telah mengekalkan watak tersebut untuk kepentingan politik. Atas dasar ini Rendra mengatakan bahwa walaupun Indonesia telah merdeka tetapi rakyat Indonesia masih belum Merdeka. Rakyat masih lagi dijajah dan ditindas oleh kapitalis-kapitalis yang memeras kekayaan negara.

    Semua peristiwa hitam ini terpahat dalam sejarah bangsa dan ia menjadi sebagian dari memori dan identitas bangsa ini. Peristiwa-peristiwa yang menjadi sebagian dari pengalaman bangsa ini mahu tidak mahu memberi kesan yang luar biasa kepada wataknya.

    Persoalan selanjutnya adalah bagaimanakah membuang watak-watak negatif tersebut kepada watak yang positif, maju dan merdeka? Watak-watak ini perlu dibuang karena ia menjadi punca kepada kemunculan budaya yang anti kemajuan, sehingga bangsa senantiasa dihantui kemunduran dan keterpurukan. Watak pasrah akan menyebabkan masyarakat tidak mau atau tidak merasa perlu berusaha lebih, menerima kemiskinan, kesempitan, kejahilan, penindasan sebagai ketentuan nasib yang tidak mungkin dirubah. Masyarakat seperti ini tidak mampu melihat sumber dan sebab-sebab yang mengakibatkan keterpurukannya. Ada keengganan untuk bertindak menghilangkan sebab-sebab kemunduran atas alasan tidak ada apa yang dapat diperbuat. Ini menjadikan bangsa itu bangsa yang pesimis, menganggap nasib sesuatu yang tidak dapat dirubah. Pengaruh Hindu-Jawa yang seharusnya menipis dengan proses Islamisasi kembali menebal dengan proses subjugasi.

    Watak submissif adalah kecenderungan seseorang untuk tunduk dan ikut apa sahaja yang diperintahkan oleh “si tuan”. Orang seperti ini tidak merasa memiliki dirinya sendiri. Tuannya berhak memperlakukan apa sahaja terhadapnya. Dalam sistem feudal hal ini tertanam dalam fikiran bangsa kita. Apa sahaja usaha yang dilakukan oleh rakyat hasilnya adalah untuk diberikan kepada Raja. Karena segalanya milik Raja. Dalam zaman penjajahan hal ini berlaku dengan paksaan dan ancaman. Penjajah telah memeras sumber manusia dan sumber alam bangsa ini melalui kerja paksa.  Sehingga ketika membina jalan raya Anyer-Panarukan ratusan ribu rakyat mati akibat kerja paksa. Bangsa yang berwatak submissif akan menerima nasib sedemikian sebagai takdir, di sinilah punca wujudnya sikap fatalis. Mereka merasakan memang sudah nasib mereka demikian. Sabar adalah satu-satunya yang dapat menenangkan mereka.

    Watak pasrah dan hamba ini menimbulkan satu budaya yang menghalang kemajuan. Budaya anti kemajuan akan merubah nilai-nilai yang sekian lama ternanam dalam identitas bangsa. Nilai kejujuran, nilai keberanian, nilai solidaritas sosial akan lenyap dan diganti dengan nilai kerakusan, nilai kepentingan diri, nilai kebendaan. Akhirnya korupsi yang semula dikecam dalam agama menjadi perkara yang lumrah dan keperluan hidup. Maka korupsi menjadi budaya dan kualitas menjadi tidak penting lagi. Dan akhirnya masa depan bangsa yang tergadai.

    Maka untuk merubah watak bangsa arah aliran mesti diterbalikkan. Tentunya pertama sekali bangsa itu perlu dibebaskan daripada penindasan dan subjugasi. Ini tidak akan berlaku jika bangsa itu tidak sadar bahwa apa yang dialaminya adalah satu bentuk penindasan dan subjugasi. Watak akan berubah jika budaya berubah dan budaya akan berubah jika nilai berubah. Karena budaya adalah penjelmaan nilai-nilai. Dalam Islam, nilai yang baik datang daripada Allah swt dan nilai yang buruk datang daripada Syaitan. Maka untuk menanamkan nilai-nilai murni, umat Muslim perlu kembali kepada Islam. Karena itu Islam menentang materialisme, hedonisme, penindasan, dan menggalakkan keseimbangan, persahabatan, keharmonian dan keadilan.

    Kunci kepada perubahan watak dan nilai-nilai ini adalah kesadaran. Dan kesadaran bukan sesuatu yang dapat dipaksakan. Ia perlu melalui proses pendidikan baik formal maupun bukan formal. Karena itu pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran manusia (the raising of human consciousness).

    Sebenarnya tidak ada bangsa yang dilahirkan bodoh, tetapi ada bangsa yang selalu menjadi korban pembodohan sehingga seolah-olah ia menjadi bangsa yang bodoh. Bangsa yang dapat diperbodohkan adalah bangsa yang tidak cerdas. Jadi bangsa yang cerdas adalah bangsa yang tidak mudah diperbodohkan, tidak rela dipermainkan  atau selalu menjadi korban kepentingan. Hakikat ini tidak tersembunyi untuk diketahui oleh orang-orang yang berfikir dan berani mengakui kelemahan. Dalam sebuah puisinya Rendra mengatakan:

bangsa kita kini seperti dadu
terperangkap di dalam kaleng utang
yang dikocok-kocok oleh bangsa adikuasa
tanpa kita berdaya melawannya.
Semua terjadi atas nama pembangunan
yang mencontoh tatanan pembangunan
di zaman penjajahan. (Maskumambang, 2006)




Pendidikan Kesadaran

Usaha membuang watak pasrah dan watak submissif memerlukan satu proses yang panjang dan matang. Hakikatnya penjajahan jiwa dan fikiran terus berlaku. Modernisasi, sekularisasi dan liberalisasi menjadi sebagian dari agenda penguasaan Barat terhadap dunia Islam. Ia adalah bentuk penjajahan secara halus. Yang dijajah akan mengikut kehendak yang menjajah secara suka rela. Ini berlaku apabila telah wujud kekeliruan epistemologi dalam pemikiran umat Islam.

    Maka disinilah usaha pencerdasan bangsa perlu dilakukan dengan bijaksana. Umat Islam perlu memikirkan perubahan paradigma dalam sistem pendidikan. Para pelajar tidak hanya disuap dengan maklumat tetapi juga diransang untuk berfikir dengan bijaksana. Pendidikan sebenar bukan untuk melahirkan generasi yang berjaya secara material lalu menjadi rakus dan zalim tetapi generasi yang bertanggungjawab dan beradab. Oleh itu tujuan pendidikan seperti dinyatakan oleh al-Attas, seorang tokoh pendidikan Islam, adalah untuk melahirkan insan yang beradab.  Bukan hanya melahirkan insan yang soleh, karena konsep  insan  soleh sering dikaitkan hanya dengan kesolehan spiritual (piety) dalam erti kata yang sempit.  Tetapi konsep ta'dib (dari perkataan adab) yang wujud sejak mula Islam adalah konsep pendidikan. Orang yang beradab  adalah orang yang adil, yang mengerti menempatkan sesuatu pada tempatnya.
    
    Maka perubahan paradigma pendidikan perlu berlaku daripada pendidikan yang melumpuhkan fikiran kepada pendidikan yang memerdekakan jiwa dan fikiran. Jelas bahwa pendidikan Islam yang sebenar adalah pendidikan yang memerdekakan jiwa dan fikiran. Oleh karena itu, menurut Siddiq Fadzil Islam mempunyai misi tahriri-tanwiri (pembebasan dan pencerahan) yang bertujuan mengangkat harkat dan darjat manusia.  Islam telah berusaha memerdekakan manusia dari belenggu materialisme, belenggu mitos dan khurafat, belenggu penghambaan sesama manusia. Semakin tertindas dan terhina suatu bangsa semakin ia menjadi lemah dan mundur. Semakin tidak berdaya melawan kebejatan dan ketidakadilan.  Ketidakberdayaan ini sangat jelas sekali berlaku di Indonesia sejak sekian lama. Atas dasar ini Rendra menegaskan bahwa yang menindas bangsa Indonesia pada hari ini adalah konglomerat-konglomerat dan kapitalis-kapitalis yang menggerogoti kekayaan bangsa.

     Penindasan mengakibatkan hilangnya harga diri. Sesuatu bangsa kemudian tidak lagi memikirkan harga diri dan integritas. Seseorang yang kehilangan maruah dan integritas akan sanggup melakukan korupsi untuk menjamin kehidupan senang karena harga diri dan moralitas menjadi tidak penting lagi. Kehidupan bermoral menjadi mimpi belaka dan kehidupan tidak bermoral menjadi sesuatu yang riil dan tak terelakkan. Apa yang berlaku sebenarnya kegagalan pendidikan dalam melawan arus materialisme dan liberalisme. Kegagalan ini sebenarnya disebabkan oleh marjinalisasi pendidikan sehingga hanya menjadi alat kebutuhan dan pertumbuhan ekonomi.

    Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang berani bersuara ketika melihat penyelewengan. Berani mempertahankan yang benar apabila ia ditindas. Bangsa yang mampu menilai sendiri benar ataupun salah sesuatu itu, bukan karena dipengaruhi kelompok tertentu melalui cara-cara tertentu tetapi atas dasar keyakinan dan kebijaksanaan sendiri. Bangsa yang matang dan dewasa adalah produk pendidikan yang membebaskan bukan pendidikan yang memenjarakan.  Untuk merealisasikan hal ini Siddiq Fadzil juga menekankan perlunya pendidikan yang membebaskan anak bangsa dari belenggu fikiran tawanan (the captive mind) dan pendidikan yang bersifat liberatif-transformatif sehingga dapat membangunkan manusia seutuhnya.  

    Dalam usaha mewujudkan sistem pendidikan  yang dapat memerdekakan jiwa dan fikiran beberapa perkara perlu diperhatikan:
a)    Pelurusan fakta-fakta sejarah demi pengukuhan identitas bangsa. Penulisan sejarah dari perspektif pribumi yang objektif tanpa unsur-unsur kolonialitas.
b)    Penghapusan absolutisme dalam apa jua bentuknya baik absolutisme politik mahupun absolutisme ideologi.
c)    Keadilan dan kedaulatan undang-undang.
d)    Kedaulatan agama dan moralitas. Untuk menggantikan kedaulatan sekularisme, liberalisme, materialisme dan hedonisme.


Mempelajari Kesilapan Masa lalu

Pengalaman adalah aset yang tak ternilai. Umat Islam harus belajar dari kesilapan masa lalu. Memang tidak mudah untuk mengakui bahwa umat Islam menghidapi penyakit-penyakit yang  yang dapat menghalang mereka daripada maju. Hakikatnya yang sempurna itu Islam tetapi umat Islam tidak sempurna. Sikap enggan mengakui kesilapan yang telah dilakukan seperti yang ditunjukkan oleh sebagian umat Islam hanya akan menghalang umat ini dari mempelajari kesilapan tersebut dan bergerak maju kedepan.

    Di antara penyakit-penyakit umat yang mesti dirawat dan disembuhkan adalah:

a)    Konservatisme: segolongan umat Islam masih mempertahankan kekolotan berfikir mereka. Tidak mahu membuka cakrawala pemikiran mereka. Golongan ini tertutup daripada pemikiran yang datang dari luar kumpulan mereka walaupun mereka tahu ia benar. Atas nama Islam mereka menjustifikasikan kejumudan dan kemunduran.
b)    Retorika dan slogan kosong. Ini adalah satu kritikan yang selalu ditujukan kepada gerakan Islam yang seringkali mempunyai kebenarannya.
c)    Penekanan kepada hukum-hakam (fiqh-oriented). Banyak permasalahan yang seharusnya dilihat secara meluas dan mendalam oleh sebagian umat Islam ternyata sering tertumpu kepada halal-haram saja.
d)    Pengabaian terhadap filsafat dan pemikiran. Kecenderungan fiqh-oriented di atas dibarengi dengan sikap membelakangi ilmu filsafat dan pemikiran atas alasan tidak praktis. Tetapi sebenarnya mencerminkan kemalasan dan ketidakmampuan berfikir dengan mendalam.
e)    Esoterisisme yang keterlaluan sehingga mengabaikan batas-batas Shari’ah dan melupakan pembangunan peradaban yang unggul.
f)    Fanatisme kepuakan (hizbiah) yang berpunca dari ketertutupan dan kejumudan fikiran.
g)    Intelektualisme tanpa kesadaran dan keprihatinan tentang kondisi umat.
h)    Terpegun dengan kehebatan Barat sehingga hilang kepercayaan kepada Islam dan tradisi Islam.

    Kesilapan-kesilapan di atas secara umumnya dapat dikategorikan kepada dua bentuk penyakit: pertama penyakit kejumudan yang berpunca dari ketidakmampuan (tafrit) dan kedua penyakit liberalisme yang berpunca daripada keterlaluan (ifrat).
 
    Sikap fanatik telah wujud sejak zaman awal Islam lagi. Kemunculan golongan Syiah telah dicirikan dengan kefanatikan mereka terhadap Sayyidina Ali. Kefanatikan ini juga yang membawa mereka kepada kebencian kepada sahabat lain termasuk Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Para ulama Ahl al-Sunnah, seperti al-Juwayni, al-Ghazali dan Ibn Taymiyyah, sebagai respon telah menjelaskan bahwa kesilapan golongan Syiah adalah sikap fanatik terhadap Imam dengan menganggap bahwa ilmu dan kebenaran hanya diperolehi melalui Imam maka taqlid kepada Imam yang mereka anggap ma'sum adalah satu-satunya cara yang benar dalam beragama.

    Fanatisme akan menjelma sebagai ektrimisme, konservatisme dan ajaran-ajaran sesat. Golongan ekstrimis adalah golongan yang fanatik terhadap sesuatu fahaman yang disampaikankan oleh segelintir ulama' melalui penafsiran sempit dan keras terhadap beberapa nas al-Qur'an dan Hadits. Dalam melakukan hal ini golongan ini telah membelakangi pandangan mayoritas ulama yang menitikberatkan kebijaksanaan dalam melaksanakan ajaran Islam. Golongan konservatif seperti jamaah tabligh juga mengambil sikap fanatik terhadap ulama' mereka sehingga tidak menerima ilmu yang datang daripada ulama' lain. Sehingga ramai di antara mereka yang berfahaman bahwa Islam  hanya berlegar dalam ruanglingkup dakwah dalam pengertian yang sempit yaitu khuruj, dan segala permasalahan umat akan dapat ditangani melalui khuruj. Begitu juga ajaran-ajaran sesat yang menjanjikan keselamatan dan keampunan dengan mengikuti perintah dan ajaran gurunya, sehingga menggugurkan kewajiban syari'at Islam kepada para pengikutnya, telah menjadikan fanatisme terhadap guru sebagai satu kemestian.     Semua golongan di atas ini mempunyai fikiran yang tertutup dan menganggap dirinya sendiri sahaja yang benar sedangkan yang lain menyeleweng dan tersasar karena tidak mengikuti jalan yang sama yang mereka tempuhi, bukan karena mereka tidak mengikuti Islam dan jalan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

    Umat Islam perlu menyadari bahwa sikap fanatik, tertutup dan eksklusif dari kelompok Islam yang lain adalah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sebaliknya Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap terbuka kepada kebenaran darimana pun ia datang. Karena kebenaran tidak diukur dengan siapa yang mengatakannya tetapi dikenal dengan kebenaran itu sendiri.  Maka fanatisme harus ditukar dengan pemikiran kritis dan bijaksana. Hal ini tidak akan berlaku jika pengikut sesuatu gerakan ditanamkan dengan indoktrinisasi semata dan bukan pemikiran kritis, bijaksana dan terbuka.

    Yang jelas fanatisme telah cukup banyak memecahbelahkan umat Islam.  Ia telah menghancurkan perpaduan dan melemahkan umat Islam. Untuk menjadi kuat dan perkasa umat Islam harus berani membuang sikap fanatik dan menggantikannya dengan sikap terbuka dan tasamuh. Oleh yang demikian, ada tiga perkara yang perlu menjadi pedoman:

i.    Kebenaran mutlak hanya datang dari al-Qur'an dan al-Sunnah.
ii.    Islam mengajarkan umatnya berlapang dada atau tasamuh sesama umatnya
iii.    Sebagai seorang Muslim kita harus mempunyai sikap husnuzzan (baik sangka) terhadap sesama Muslim.

    Walaupun demikian tasamuh dan husnuzzan tidak bermakna apa sahaja penyelewengan yang  berlaku perlu dibiarkan dan bersangka baik terhadap perkara yang jelas bertentangan dengan  al-Qur'an dan Sunnah.  Teguran tetap perlu dilakukan terhadap penyelewengan, khususnya bagi yang memiliki ilmu yang cukup untuk memperbetulkan kesilapan tersebut.
 



Tantangan Pemikiran

Kemunculan Islam liberal adalah lambang krisis epistemologi dan pemikiran umat Islam. Ia berlaku setelah masyarakat Islam tercabut dari akarnya dan jauh daripada model atau archetype generasi awal Islam. Islam Liberal menggunakan postmodenisme untuk mendobrak kekebalan Islam. Tanpa menyadari bahwa, berbeda dengan modernisme dan naratif-naratif besar lainnya, rahasia kekebalan Islam terletak pada kesucian dan kemurnian sumbernya. Oleh itu konsep-konsep yang diusung oleh golongan liberal seperti hermeneutika, dekonstruksi syari'ah, kesetaraan jender, pluralisme agama hanya akan menemui jalan buntu. Karena aliran filsafat ini sangat rapuh untuk dapat menggoyahkan  Islam yang sempurna dan kukuh.

    Disadari maupun tidak Islam liberal sebenarnya berfungsi sebagai alat untuk kepentingan Barat. Tulisan-tulisan Cheryl Benard, Richard Nixon, Daniel Pipes jelas menunjukkan bahwa Barat menginginkan agar umat Islam tunduk kepada Barat. Karena mereka melihat bahwa Islam, jika dibiarkan tanpa campurtangan Barat, akan satu ancaman kepada hegemoni Barat. Maka Islam liberal telah diwujudkan sebagai satu upaya menundukkan Islam dan umat Islam. Jika masih ada Islam maka ia adalah Islam yang direstui oleh kuasa Barat.

    Hakikat yang perlu difahami adalah bahwa kejahilan dan kekeliruan tentang Islam menjadi lahan yang subur bagi liberalisasi Islam. Maka dalam menghadapi arus liberalisasi yang penting adalah agar umat Islam kembali memahami Islam dengan betul. Kembali memahami epistemologi Islam dan worldview Islam. Dengan kefahaman yang mendalam terhadap epistemologi dan worldview Islam yang akan menonjolkan keutamaan Islam maka “serangan pemikiran” ini tidak akan dapat mempengaruhi umat Islam, baik di kalangan masyarakat umum mahupun di kalangan cendekiawan.  

    Seperti dijelaskan di atas, kekeliruan identitas mempunyai konsekuensi yang jelas dengan krisis epistemologi atau pemikiran. Maka kewujudan Islam Liberal menuntut perlunya kekeliruan epistemologi ini ditangani dengan serius. Untuk itu tumpuan perlu diberikan kepada pembenahan dan penyegaran aqidah, dan bukan persoalan-persoalan yang remeh-temeh. Pemerkasaan aqidah dilakukan sehingga muncul satu kefahaman tentang aqidah yang dapat menghubungkan antara persoalan aqidah dengan persoalan-persoalan epistemologi, sosiologi dan peradaban, dan bukan berhenti sebatas penghafalan dan indoktrinisasi.  Aqidah seharusnya dapat membentuk dan membangun cara berfikir dan worldview umat Islam.  

    Dalam usaha menangani krisis pemikiran ini al-Attas, dalam bukunya Risalah Untuk Kaum Muslimin, telah menggariskan tiga faktor yang menyebabkan berlakunya krisis tersebut:

(i).    kekeliruan serta kesilapan mengenai faham ilmu
(ii).     keruntuhan adab di kalangan kaum Muslimin
(iii).    kemunculan pemimpin-pemimpin palsu dalam semua bidang.  

    Bagi al-Attas persoalan epistemolgi adalah persoalan asas yang mesti diselesaikan agar krisis pemikiran tidak berlanjutan. Karena kelemahan dalam bidang ekonomi, politik dan sebagainya pada dasarnya mempunyai kaitan dengan pemikiran dan epistemologi umat Islam.  Ramai yang tidak menyadari, termasuk golongan cendekiawan, tantangan sekularisme, liberalisme, dan postmodernisme terhadap umat Islam. Atas dasar inilah beliau telah menggagaskan idea Islamisasi ilmu-ilmu kontemporer agar krisis pemikiran ini dapat diatasi.


Pencerdasan Pemikiran

Pemikiran yang cerdas dicirikan dengan kemampuan berfikir kritis, terbuka dan bijaksana yang berlandaskan kepada keilmuan yang kukuh. Sedangkan pemikiran yang tidak cerdas dicirikan dengan sikap yang suka mengikut (taqlid), fanatik akan sesuatu idea, fahaman dan seseorang tokoh, dan kecenderungan untuk meniru orang yang dianggap lebih hebat. Pemikiran masyarakat yang tidak cerdas dapat dilihat  melalui tanda-tanda seperti pemikiran tidak rasional, terjebak dalam terorisme dan fanatisme, memilih pemimpin palsu, bermusuhan sesama sendiri, mudah diadu-domba dan ditipu oleh media massa, mudah dibeli oleh uang.

Penjajahan tidak akan berlaku lama jika tidak disertai dengan penjajahan pemikiran. Seorang pemikir negro di Amerika, Carter Woodson, mengatakan “If you can control a man's thinking you do not have to worry about his action”,  “Apabila kamu dapat menguasai/mempengaruhi fikiran seseorang maka kamu tidak perlu khuatir tentang tindakannya”. Maka Umat Islam perlu menyadari bahwa penguasaan yang berpanjangan terhadap umat Islam berlaku melalui penguasaan pemikiran.

    Maju mundur sesuatu kaum ditentukan oleh cara berfikir mereka. Prof. Wan Mohd Nor, seorang pemikir dari Malaysia, menegaskan kemunduran suatu bangsa banyak ditentukan oleh rendahnya budaya ilmu. Pemikiran rasional, kritis dan inovatif menandakan budaya ilmu. sedangkan pemikiran jumud, fanatik, dan sempit menunjukkan rendahnya budaya ilmu. Tetapi untuk mencapai budaya ilmu yang baik ini menurutnya diperlukan Guru Murshid.  Kekeliruan dan perpecahan sering berlaku sesama masyarakat yang tidak mampu berfikir secara rasional dan bijaksana. Di sinilah pentingnya Guru Murshid atau Pencerah, dalam hal ini Raja Ali Haji, Seorang Pemikir Melayu-Riau Abad ke-19 menasihatkan anaknya:

Nasihat ayahanda anakanda fikirkan
Khianat syaitan anakanda jagakan
Orang berakal anakanda hampirkan
Orang jahat anakanda jauhkan

Setengah orang  fikir keliru
Tidak mengikut pengajaran guru
Tutur dan kata haru-biru
Kelakuan seperti hantu pemburu.

 
    Perubahan adalah satu kemestian dalam menjalani kehidupan karena sunnah alam ini sentiasa berubah. Pendekatan dan kaedah perjuangan mesti memerhatikan situasi dan kondisi yang sentiasa berubah. Umat Islam perlu memiliki keberanian untuk berubah dan merubah kepercayaan-kepercayaan yang diterima tanpa usul periksa.

    Yang jelas bangsa pasrah ini menjadi beban kepada Islam. Bangsa-bangsa lain akan memandang hina kepada mereka. Mereka memberi gambaran yang buruk kepada Islam karena akhlak dan perilaku mereka menjadi contoh yang buruk kepada bangsa lain. Mereka tidak memiliki keupayaan untuk maju dan memimpin dunia. Mereka sendiri gagal menyahut seruan agama mereka untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi.


Gerakan Pencerahan

Daripada penjelasan di atas jelas bahwa harus difikirkan cara yang ampuh untuk mengeluarkan umat dari keterpurukannya. Dengan belajar dari kesilapan masa lalu, cara baru harus lebih matang dan bijaksana. Kesatuan pemikiran dan matlamat di kalangan gerakan-gerakan Islam diperlukan untuk betul-betul dapat melakukan perubahan. Tentunya peranan kaum Ilmuwan sangat penting dalam usaha mengeluarkan umat ini dari keterpurukan. Imam al-Ghazali telah menegaskan:

“Sesungguhnya kerusakan masyarakat disebabkan kerusakan penguasa, dan kerusakan penguasa disebabkan kerusakan ulama’. Jika bukan karena para qadi yang rusak dan ulama yang rusak maka akan berkurangan kerusakan penguasa karena takutkan teguran mereka”.

    Kekeliruan pemikiran umat Islam hari ini menuntut diwujudkannya gerakan pencerahan secara serius. Gerakan besar-besaran perlu dilakukan oleh sekelompok cendekiawan yang tercerahkan (enlightened scholars). Mereka mestilah memiliki kesatuan kerangka pemikiran, walaupun mungkin berbeda dari segi pendekatan dan penekanan, namun mereka semua memiliki kefahaman yang tepat terhadap masalah, kesatuan matlamat dan ikhlas. Mereka semestinya telah terbina dalam tradisi intelektual yang kukuh dan mengakar dalam tradisi Islam. Jika benar umat Islam mendambakan kebangkitan Islam, maka gerakan pencerahan inilah yang akan dapat mencetuskan kesadaran untuk memulakan renaissans ke-tiga. Kebangkitan sebenar hanya terjadi jika berlaku gerakan keilmuan. Tidak ada bangsa yang bangkit dan mencipta tamadun besar tanpa didahului oleh gerakan keilmuan yang komprehensif.

    Kemunduran dan kelemahan umat Islam adalah permasalahan yang kompleks. Maka untuk mengatasi masalah ini juga diperlukan satu kefahaman yang mendalam dan pendekatan yang menyeluruh. Pendekatan sepihak tidak akan dapat menyelesaikan masalah yang kompleks seperti ini. Pemahaman yang dangkal terhadap masalah ini juga hanya akan mengakibatkan lebih banyak kesilapan dilakukan oleh umat Islam.

    Tidak ada cara yang mudah, singkat dan magis untuk mengeluarkan umat ini dari keterpurukan. Retorika dan slogan yang selama ini dilaungkan terbukti tidak mendatangkan manfaat apapun kepada umat Islam. Yang tinggal adalah cara yang susah, ilmiah, dan menantang kesungguhan dan kesabaran. Cara yang mesti ditempuhi haruslah berdasarkan kebijaksanaan dan ilmu bukan mitos dan indoktrinisasi semata. Atas dasar ini juga jalan kekerasan bukan pendekatan yang tepat dan bijaksana. Karena ia dilakukan bukan berdasarkan pertimbangan yang matang dan bijaksana tetapi berdasarkan pertimbangan yang sempit dan emosional.

    Demikian juga pemerkasaan bangsa melalui pembangunan ekonomi saja tidak mencukupi, begitu juga penekanan hanya pada aspek pendidikan dan politik juga tidak mencukupi. Kekuatan ekonomi dan politik saja tidak dapat memajukan sesuatu bangsa dan membina satu tamadun yang gemilang, ini dapat dibuktikan apabila kita melihat beberapa negara yang memiliki kekayaan dan kekuasaan tetapi banyak bergantung kepada bangsa asing dan kuasa asing. Masalah ekonomi hanyalah gejala luaran dari penyakit dalaman yang lebih serius dan parah. Begitu juga kelemahan dalam sistem pendidikan dan politik sebenarnya berakar pada masalah psikologi dan epistemologi.
    
    Daripada penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat dua masalah besar yang melanda umat Islam: (i), masalah watak bangsa yang pasrah dan submissif yang berpunca daripada penindasan, pembodohan dan subjugasi dan (ii), kekaburan identitas yang menyebabkan kekeliruan epistemologi. Yang pertama menyebabkan kehilangan keyakinan diri (self-esteem). Ia adalah satu bentuk penjajahan jiwa. Dan yang kedua adalah satu bentuk penjajahan fikiran yang menyebabkan umat ini melakukan banyak kesilapan. Ini karena epistemologi memandu pemikiran dan pemikiran menentukan tindakan. Maka pemikiran yang salah menimbulkan tindakan yang salah bahkan kadang-kadang dapat menghancurkan diri sendiri.

    Oleh itu pemerkasaan umat juga perlu dilakukan melalui dua agenda besar: (i), rekonstruksi watak melalui pendidikan kesadaran untuk melahirkan bangsa yang berjiwa dan berfikiran merdeka. Ia adalah langkah pembenahan diri bangsa. Seperti seseorang yang mengalami luka dalaman tentunya ia perlu mendapatkan rawatan yang juga bersifat dalaman, (ii), gerakan pencerahan untuk mengukuhkan identitas bangsa. Gerakan ini bersifat keilmuan yang akan mengangkat harkat dan martabat umat Islam dari segi pemikiran, politik, ekonomi dan pendidikan. Agenda yang kedua ibarat membina tubuh yang kuat dan perkasa. Dengan adanya keyakinan diri dan kekuatan pemikiran maka umat ini akan dapat menghadapi apa jua tantangan dan bersedia untuk kembali memimpin dunia.


Rujukan:

Al-Attas, S.M.N. The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education. Kuala Lumpur: ABIM, 1980.

________. Risalah Untuk Kaum Muslimin. Kuala Lumpur: ISTAC, 2001

________. Islam and Secularism. Kuala Lumpur: ISTAC, 1993. Cetakan pertama 1978.

Alatas, Syed Hussein. Intelektual Masyarakat Membangun. Edisi bahasa Inggris 1977. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1992.

Bennabi, Malik. The Problem of Ideas in the Muslim World. Terj. Mohamed T. El-Mesawi. Petaling Jaya: ABIM, 1994.

________. Shurut al-Nahdah. Beirut: Dar al-Fikr al-Mu'asir, 2000.

Al-Ghazali, Abu Hamid. Majmu'at Rasail al-Imam al-Ghazali, al-Qistas al-Mustaqim. Kaherah: al-Maktabah al-Tawfiqiyyah, t.t.

Ibn Khaldun, al-Muqaddimah. Beirut: Dar al-Fikr, 2004.

Iqbal, Muhammad. Reconstruction of Religious Thought in Islam. Lahore: Muhammad Ashraf, 1965.

Al-Kawakibi, Abd al-Rahman. Taba’i'  al-Istibdad. Beirut: Dar al-Nafais, cetakan ke-3 2006.

Khalif Muammar. Atas Nama Kebenaran: Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal. Kajang: Akademi Kajian Ketamadunan, 2006.

________. “Penghalang Pembangunan Semula Tamadun Islam” dalam PEMIKIR. Bil. 49. Julai-September, 2007. hlm. 37-48.

Muhammad Imarah. Fi Fiqh al-Hadarah al-Islamiyyah. Kaherah: Maktabah al-Shuruq al-Dawliyyah,  cet. Ke-2 2007.

Rendra, WS. Rakyat Belum Merdeka. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.

Siddiq Fadzil. Perspektif Qur'ani: Siri Wacana Tematik. Kajang: Biro Dakwah dan Tarbiah ABIM Pusat, 2003.

________. “Krisis Kependidikan Masa Kini: Cabaran Membina Generasi Berjiwa Merdeka” dalam MADANIYAT, Akademi Kajian Ketamadunan, 4:2 (2006), 2.

________. Kaum Ilmuwan dan Misi Pencerahan. Kajang: Akademi Kajian Ketamadunan, 2006.

Wan Mohd Nor Wan Daud. Penjelasan Budaya Ilmu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1997.

________. Masyarakat Islam Hadhari: Suatu Tinjauan Epistemologi dan Kependidikan ke Arah Penyatuan Bangsa. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2006.

     
i.    Dr Khalif Muammar merupakan seorang Felo Peneliti di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) UKM, Malaysia. Beliau dapat dihubungi melalui emel: Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya atau website www.khairaummah.com.
ii.    Surah al-Zukhruf, 43:54.
iii.    Surah al-Qasas, 28:5
iv.    Abd al-Rahman al-Kawakibi, Taba’i'  al-Istibdad (Beirut: Dar al-Nafa'is, cet. ke-3 2006), 30.
v.    Ibn Khaldun, al-Muqaddimah (Beirut: Dar al-Fikr, 2004) 188.
vi.    Surah Al-Ra’d, 13:11.
vii.    Syed Husein Alatas, Intelektual Masyarakat Membangun. Edisi bahasa Inggris 1977(Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1991) 2-7.
viii.    Malik Bennabi, Shurut al-Nahdah, 156.
ix.    Rendra, Rakyat Belum Merdeka (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), 2-5.
x.    Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja (Jakarta: Hasta Mitra, 2000), 13-21.
xi.    S.M.N. Al-Attas, The Concept of Education in Islam. Cetakan pertama 1980 (Kuala Lumpur: ISTAC, 1991), 22; Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas: An Exposition of the Original Consept of Islamization (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998),132-133.
xii.    Siddiq Fadzil, Kaum Ilmuwan dan Misi Pencerahan (Kajang: Akademi Kajian Ketamadunan, 2006), 2-3.
xiii.    Rendra, Rakyat Belum Merdeka (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), 2-5.
xiv.    Siddiq Fadzil, “Krisis Kependidikan Masa Kini: Cabaran Membina Generasi Berjiwa Merdeka” dalam MADANIYAT, Akademi Kajian Ketamadunan, 4:2 (2006), 2.
xv.    Lihat Imam Abu Hamid Al-Ghazali, Majmu'at Rasail al-Imam al-Ghazali, al-Qistas al-Mustaqim (Kaherah: al-Maktabah al-Tawfiqiyyah, t.t), 215.
xvi.    Penjelasan lanjut tentang Islam Liberal ini telah dibahas oleh penulis dalam buku penulis berjudul Atas Nama Kebenaran: Tanggapan Kritis Terhadap Wacana Islam Liberal (Akademi Kajian Ketamadunan, 2006).
xvii.    S.M.N. Al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001), 137; al-Attas, The Concept of Education in Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1991, cetakan pertama 1980), 34 .
xviii.    Carter Woodson, The Mis-Education of the Negro (The Associated Press, 1933), 37.
xix.    Wan Mohd Nor Wan Daud, Masyarakat Islam Hadhari: Suatu Tinjauan Epistemologi dan Kependidikan ke Arah Penyatuan Bangsa. (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2006), 123.
xx.    Raja Ali Haji,  “Shair Nasihat” dalam Abu Hasan Sham (peny.) Puisi-Puisi Raja Ali Haji, 292. Dikutip dari Wan Mohd Nor Wan Daud , Masyarakat Islam Hadhari, 123.
xxi.    Abu Hamid al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, 2: 224.

Komen
Carian
hanya ahli berdaftar boleh mennghantar komen!!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Kemas Kini Terakhir ( Thursday, 08 January 2009 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >