|
...“Kamu adalah umat terunggul (khayra ummah) yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah daripada yang munkar dan kamu beriman kepada Allah”... (Ali 'Imran:110) Wahana Pencerahan dan Pemberdayaan Ummah |
Dunia Islam
Tradisi Ramadhan di Mesir
|
| Khairaummah mailing list | |
|---|---|
|
| Infoteks | |
|---|---|
|
|
| Seksyen | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
| Mailing List |
|---|
| klik di sini untuk menyertai mailing list khairaummah |
| Lawatan | ||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Trafik |
|---|
| Islamictube |
|---|
|
| Statistik |
|---|
|
Ahli: 533 Artikel: 294 Pautan: 5 Pengunjung: 514767 |
| Tradisi Ramadhan di Mesir |
|
|
|
| Ditulis Oleh Metra Wirman | ||||||
| Friday, 05 September 2008 | ||||||
|
Mesir sebagai tonggak sejarah peradaban Islam, akan terus menjadi inspirasi dan rujukan masyarakat muslim dunia. Alhasil, segala sesuatu yang muncul dan booming disana, selalu menarik untuk diketahui. Termasuk diantaranya adalah tradisi ramadhan disana." Ramadhan karim, kullu 'amin wa antum bi khair "Demikian salam khas Ramadhan yang biasa terucap oleh kaum muslimin di Mesir kepada sesamanya ketika mulai memasuki hari – hari pertama bulan Ramadhan. Bagi umat Islam diseluruh dunia, Ramadhan adalah tamu agung yang dinanti – nanti kehadirannya setiap tahun. Berbagai macam resepsi, makanan, mainan hiasan dan lain – lain dilakukan dan dipersiapkan oleh umat islam untuk menyambut bulan yang mulia ini. Ramadhan memang tidak hanya berkaitan dengan yang berbau spiritual : puasa, sholat tarawih, tadarus al-Qur'an, sadaqah, tapi juga dengan budaya dan tradisi yang tumbuh dan berkembang yang ditengah umat Islam. Diseluruh belahan dunia Islam Ramadhan selalu dipenuhi dengan pernak pernik yang menarik untuk diamati. Tradisi di Mesir memiliki berbagai keunikan berkenaan dengan bulan Ramadhan. Diantaranya yang paling unik adalah fanus (lampu Ramadhan), ajwa' Ramadhan (suasana dengan hiasan khas ramadhan), maidaturrahman (hidangan gratis untuk berbuka puasa), kunafa dan qathayif (makanan khas Ramadhan), musahharati (orang yang bertugas membangunkan kaum muslimin untuk makan sahur), lagu – lagu Ramadhan dan meriam Ramadhan yang dibunyikan ketika waktu magrib tiba. Sementara tata cara pelaksanaan ibadah, meskipun tidak jauh beda dengan yang ada di tanah air, tetap saja menyimpan berbagai keunikan. Ajwa' Ramadhan. Diminggu terakhir bulan Sya'ban, kaum muslimin di Mesir sibuk membuat hiasan yang disebut dengan ajwa' Ramadhan. Secara harfiyah, ajwa' Ramadhan berarti suasana Ramadhan. Hiasan ini sengaja dibuat untuk menciptakan suasana yang khas Ramadhan. Ajwa' Ramadhan dibuat dari kertas warna warni yang digunting dalam berbagai bentuk dan dirangkai dengan seuntas tali. Hiasan ini dipasang diantara gedung – gedung perumahan yang terdiri banyak apartemen. Diantara dua gedung kadang digantung fanus dalam ukuran besar. Antara fanus dan gedung – gedung tersebut kemudian dipasang ajwa' Ramadhan. Di beberapa tempat, terutama diperkotaan, ajwa' Ramadhan tidak dibuat dari kertas melainkan dari lampu warna warni. Dipasangnya ajwa' Ramadhan menunjukan bahwa kaum muslimin di Mesir menyambut Ramadhan dengan hati ceria. Biasanya ajwa' Ramadhan dibiarkan tetap tergantung sampai Ramadhan usai. Fanus. Yang tidak pernah ketinggalan menghiasi malam – malam Ramadhan adalah fanus. Fanus adalah lampu yang dirumahkan, mirip dengan tanglong (lampu Cina). Biasanya fanus dibuat dari kaca tipis yang berwarna warni dan lilin didalamnya. Sepanjang malam – malam Ramadhan, mesjid – mesjid, jalan – jalan dipenuhi oleh festival cahaya yang warna warni. Bagi anak – anak kecil suasana ini amat menyenangkan. Mereka biasanya bermain di jalan – jalan sambil menenteng fanus dalam ukuran kecil dan menyanyikan lagu wahawi ya wahawi. Meskipun didaerah perkotaan pemandangan seperti ini sudah jarang disaksikan saat ini, tapi dikawasan – kawasan miskin dan pedesaan dengan mudah dapat ditemukan. Layaknya lampu, pada awal Islam fanus sebenarnya digunakan sebagai alat penerang pada malam hari untuk pergi ke mesjid atau mengunjungi kerabat. Tapi masa – masa selanjutnya fungsi fanus berubah menjadi mainan dan hiasan. Penduduk Mesir pertama kali mengenal fanus Ramadhan pada 5 Ramadhan 358 H. Pada tanggal itu al-Muiz li Dinillah dari Dinasti Fatimiyah memasuki Kairo pada malam hari. Kehadiran al-Muiz disambut oleh warga Kairo dengan fanus – fanus dan teriakan selamat datang. Di tangan dinasti fatimiyah inilah fanus kemudian berubah dari fungsi aslinya sebagai penerang menjadi hiasan dan mainan. Pada Dinasti ini, anak – anak kecil mengelilingi jalan – jalan dan gang – gang meminta hadiah halawah (kue – kue manis) yang diciptakan oleh dinasti fatimiyah. Selain itu, mereka juga mengiringi musahharati membangunkan kaum muslimin pada bulan Ramadhan. Sejak saat itu, fanus identik dengan Ramadhan, mainan anak – anak dan lagu – lagunya. Industri fanus muncul seiring dengan pergeseran fungsinya pada masa fatimiyah ini. Sejak saat itu mulai bermunculan orang – orang berprofesi sebagai pengrajin fanus. Berbagai inovasi bentuk – bentuk fanus juga muncul sejak saat itu. Hanya saja, fanus dalam bentuknya seperti yang saksikan saat ini baru dikenal akhir abad XIX. Di kairo, Industri fanus berpusat dikawasan al-Darb al-Ahmar, Barakatul fil dan sayidah zaenab. orang yang yang berprofesi sebagai pengrajin fanus biasa disebut dengan al-Samkari al-Baladi. Mereka memulai pekerjaannya langsung setelah hari raya Idul Fitri berakhir sampai mencapai puncaknya beberapa bulan sebelum Ramadhan. Sementara pusat perdagangan fanus terletak didaerah Tahta al-Rub' , dimana terdapat dua keluarga yang secara turun temurun berprofesi sebagai distributor fanus. Merekalah yang bekerja menyalurkan kerajinan yang hanya ada dipasaran selama satu bulan dalam setahun ini keseluruh wilayah Mesir. Fanus memiliki bermacam bentuk dan ukuran. Masing – masing memiliki nama tersendiri. Fanus yang paling kecil diberi nama fanus 'adi atau biz. Bentuknya persegi empat dan memiliki satu pintu yang dapat dibuka dan ditutup untuk meletakan lilin didalamnya. Panjangnya tak lebih dari 10 cm. Sementara fanus yang paling besar dinamai kabir bi aulad. Bentuknya persegi empat dan pada bagian dasarnya tergantung fanus – fanus lain yang ukurannya lebih kecil. Ada juga yang bernama muqarnis atau mubazbaz yang berbentuk bintang besar. Fanus yang berbentuk persegi, ada yang bagian atas dan bawahnya sama lebar dan ada juga berbentuk limas dengan bagian bawah lebih kecil dari bagian atas. selain itu, ada juga fanus yang berbentuk kereta api dan kendaran lainnya. Bentuk fanus kadang juga dipengaruhi oleh peristiwa – peristiwa yang terjadi pada saat tertentu. Pada masa perang misalnya, muncul fanus berbentuk tank, pesawat dan rudal. Pada tahun – tahun terakhir muncul berbagai bentuk baru fanus yang diimpor dari Cina dan Taiwan. Fanus – fanus ini tidak lagi dibuat dari kaca, tapi dari plastik. Peran lilin pun telah digantikan oleh bolam yang dinyalakan dengan baterai. Ukurannya bermacam – macam, mulai dari yang sangat kecil yang bisa digunakan sebagai gantungan kunci, sampai ukuran yang sedang dan besar. Biasanya fanus – fanus ini berbentuk burung, mesjid dan bentuk – bentuk lain yang menarik anak – anak. Fanus – fanus ini dilengkapi dengan kaset kecil berisi lagu – lagu Ramadhan, do'a – do'a dan lagu – lagu populer. Musahharati dan Meriam Ramadhan. Hari – hari Ramadhan di Mesir, sebagaimana layaknya di belahan dunia Islam lainnya, dimulai dengan persiapan makan sahur. Orang yang bertugas membangunkan kaum muslimin untuk makan sahur dikenal dengan Musahharati. Musahharati biasanya membawa drum yang disebut dengan al-Bazah ditangan kirinya. Sedang tangan kanannya menggenggam pemukul yang terbuat dari kulit atau kayu. Al-Bazah adalah drum yang memiliki satu sisi, terbuat dari kulit. Punggungnya terbuat dari tembaga berbentuk silinder. Kadang al-Bazah disebut juga dengan thablatul musahhir (Drum orang yang membangunkan sahur). Al-Bazah yang memiliki ukuran besar disebut dengan thablah gamal. Sumber – sumber sejarah menunjukan bahwa musahharati dan seni membangunkan orang untuk makan sahur mendapat tempat istemewa di hati umat Islam Mesir pada pertengahan pertama abad XIX seni ini mencapai puncak perkembangannya. Pada waktu itu, setiap sudut dan bagian terkecil kota kairo memiliki musahharati. Kedudukan yang dimiliki oleh musahharati saat itu tidak lebih rendah dari kedudukan penyanyi pada masa sekarang. Hanya orang – orang yang memiliki suara merdu yang bisa bekerja sebagai musahharati. Musahharati biasanya mulai berkeliling dua jam setelah matahari terbenam atau setelah sholat isya tepat. Sambil berkeliling, musahharati memukul drumnya, setiap saat sebanyak tiga kali. Di depan setiap rumah, kecuali rumah orang miskin dan orang yang sedang berduka cita musahharati berhenti. Setelah memukul drumnya tiga kali musahharati berdendang : " 'azza man yaqulu la ilaha illallah "(berjayalah orang yang mengucapkan la ilaha illallah). Kemudian ia memukul drumnya tiga kali, lalu berkata : " As'ada layalika ya fulan "(semoga malam – malammu berbahagia, wahai fulan) sambil menyebut nama pemilik rumah. Kemudian dia menyebut saudara – saudara pemilik rumah itu, anak – anak laki – lakinya dan anak perempuannya yang tertua, dan terakhir dia berkata : " As'ada layali ila siti al-Arayisy fulanah "(malam – malam bahagia buat nyonya fulanah). Setelah menyebut nama – nama seisi rumah, kemudian musahharati berkata : "Semoga Allah menerima sholat, puasa dan kebaikan mereka ". Sebagai penutup dia berkata : " Allah yahfazhuka, ya karim, kulla 'am " (Semoga Allah melindungimu, wahai yang mulia, sepanjang tahun). Pada saat – saat tertentu, terutama didepan rumah para pembesar, setelah berkata " 'azza man yaqulu la ilaha illallah ", musahharati mendendangkan sebuah lagu bersajak yang panjang, dimulai dengan istighfar dan salawat, kemudia dilanjutkan dengan cerita mi'raj dan cerita mukjizat lainnya. Musahharati memukul drumnya tiga kali setiap selesai satu bait. Lagu – lagu musahharati juga terdiri dari cerita rakyat, meskipun cerita – cerita keagamaan lebih mendominasi. Kadang musahharati tidak berkeliling sendiri, tapi ditemani oleh pemukum drum atau peniup terompet. Dengan demikian, tugasnya hanya sebatas mendendangkan lagu – lagu saja. Sekitar setengah jam sebelum waktu imsak tiba dari arah Cairo Citadel (Benteng Kairo) di jabal Muqattam (gunung muqattam) akan terdengar suara meriam sebagai peringatan agar kaum muslimin segera menyelesaikan makan sahurnya. Hanya saja, meriam Ramadhan di Mesir lebih identik dengan saat berbuka puasa. Letusan meriam tepat waktu magrib tiba disusul oleh adzan yang bersautan dari ratusan menara mesjid di Kairo memang menciptaan suasan yang khas. Kebiasaan mengumumkan tibanya saat berbuka puasa dengan meledakan meriam ini dilakukan oleh pemerintah Mesir sejak abad XVI. Saat ini,suara letusan meriam itu memang tidak kedengaran lagi di seluruh penjuru Kairo yang telah berubah kota metropolitan. Tapi suasana yang khas ini masih dapat dirasakan dengan menyaksikan tayangan TV, upacara peledakan. Maidaturrahman. Secara harfiyah, Maidaturrahman berarti jamuan Tuhan yang Maha Penyayang. Dinamakan demikian, barangkali, karena jamuan ini disediakan bagi hamba – hamba Tuhan untuk berbuka puasa setelah seharian menjalankan perintah-Nya. Berbuka di Mesir bukan suatu masalah, bagi orang – orang yang masih dalam perjalanan ketika adzan berkumandang, kayaknya nggak usah cemas karena memang maidaturrahman ada dimana – mana. Disetiap mesjid maupun instansi – instansi, restoran – restoran di Mesir biasanya selalu menyediakan jamuan makan gratis buat orang – orang yang puasa yang masih dalam perjalanan. Munculnya tradisi maidaturrahman erat kaitannya dengan penaklukan Mesir oleh tentara Islam. yang pertama kali mengadakan maidaturahman adalah Ahmad Bin Tholun, pendiri Dinasti Thuluniyah di Mesir. Namun dalam perjalannya, maidaturrahman mengalami pasang surut. Baru kemudian bangkitnya tradisi ini bahkan mencapai puncaknya pada masa Fatimiyah. Orang – orang fatimiyah menamakan maidaturrahman dengan al-asmathah. Pada masa itu, para pedagang dan orang – orang kaya berlomba – lomba mengadakan maidaturrahman dan mengawasi langsung pelayanan yang diberikan pada para tamu. Hanya saja, tradisi ini mengalami kemunduran pada masa Dinasti Ayyub, untuk kemudian kembali berkembang pada masa dinasti Mamluk dan Usmaniah. Pada masa kedua Dinasti ini, maidaturrahman memasuki fase baru perlombaan antara para pedagang besar Kairo. Pada masa – masa awal naiknya Gamal Abdul Naser sebagai Presiden Mesir, karena kondisi tertentu, maidaturrahman sempat hilang dari peredaran. Baru saat – saat terakhir Abdul Naser berkuasa, lewat jasa Bank Nasirul ijtima' , pada tahun 1967 maiadaturrahman dihidupkan kembali. Sampai saat ini tradisi masih hidup, meskipun pada tahun – tahun terakhir mengalami penurunan akibat krisis ekonomi yang melanda Mesir. Sedikitnya tiga juta rakyat Mesir setiap harinya buka puasa di maidaturrahman. Persiapan untuk mengadakan maidaturrahman dilakukan oleh umat Islam Mesir beberapa hari menjelang bulan Ramadhan. Di berbagai sudut kota didirikan tenda – tenda yang terbuat dari tiang – tiang kayu dan kain berwarna merah dengan motif khas Mesir. Dibagian depan tenda – yenda tersebut biasanya dipasang famplet yang bertuliskan maidaturrahman. Meskipun tidak umum, di instansi atau pribadi yang mengadakan maidaturrahman tersebut, yang menarik, diantara individu – individu yang mengadakan maidaturrahman ini – selain para pelaku bisnis – adalah para artis, baik bintang film, penyanyi, seniman bahkan penari perut. Menu yangdisediakan dalam maidaturrhaman berbeda – beda, sesuai dengan tingkat ekonomi penyandang dananya. Di maidaturrahaman - maidaturrahman yang diadakan para artis dan pelaku bisnis menu yang disediakan setara dengan menu yang ada di hotel berbintang lima. Oleh karena itulah, maidaturrahman – maidaturrahman tersebut selalu dibanjiri para pengunjung yang berasal dari tempat yang jauh. Dimesjid – mesjid acara berbuka puasa biasanya dimulai dengan dua atau tiga biji korma dan segelas air putih. Setelah itu diadakan sholat magrib berjamaah. Biasanya imam hanya membaca surat – surat pendek dalam sholat magrib ini. Tepat setelah salam, jamaah langsung menuju kebagian lain dari mesjid dimana telah menunggu hidangan yang siap santap. Hidangan kadang dibagi dalam porsi besar untuk empat atau lima orang setiap porsi. Kadang juga setiap orang mendapat porsi sendiri. biasanya menu yang disediakan terdiri dari 'isy (roti kasar), nasi, ayamg oreng, atau daging rebus, sayur ful (kacang biji) dan tursi (wortel, ketimun, dan cabe yang diasamkan) sebagai lalap. Sebagai pencuci mulut, biasanya disediakan berbagai macam halwah (kue-kue manis). Kunafah dan Qathayif Diantara semakin banyak halwa, kunafah dan qathayif menduduki tempat tersendiri pada bulan Ramadhan di Mesir. Kunafah terbuat dari gandum, gula, madu, kismis dan berbagai jenis kacang. Qathayif mirip Kunafah, hanya saja, berbeda dengan kunafah yang biasanya dipotong persegi empat, qathayif berbentuk bundaran – bundaran kecil yang dilipat dan diisi kismis dan kacang. Pada awalnya, kunafah adalah makanan para khalifah. berbagai riwayat menyebutkan bahwa kunafah pertama kali dihidangkan kepada Mu'awiyah bin Abi Sufyan ketika menjadi gubernur Syiria. Mu'awiyah menyantap kunafah pada saat sahur untuk mengantisipasi rasa lapar yang sering dialami pada siang hari. Pada masa Dinasti Fatimiyah, kunafah menjadi salah satu dari sekian banyak halwa yang mereka buat. Sejak saat itu, orang – orang tidak pernah memakan kunafah pada hari – hari biasa akan mendapatkannya dengan satu atau lain cara di bulan Ramadhan. Kunafah kemudian menjadi makanan yang identik dengan bulan Ramadhan pada masa Dinasti Ayyub, Mamluk, Otoman sampai masa sekarang. Kunafah tidak lagi dimonopoli oleh para khalifah, tapi telah berubah menjadi makanan rakyat yang bisa dinikmati oleh yang kaya dan yang miskin. Di antara yang menunjukan popularitas kunafah dan qathayif adalah kemunculannya dalam sastra Arab, khusus syair. Para Penyair pada zaman Umayah dan setelahnya menyebutkan kedua jenis halwah itu dalam puisi – puisi mereka. Ibnu ar-Rumi dan Abu Husein al-Jazar, bahkan Jalaluddin Abdurrahman bin Ubay as-Suyuthy dalam bukunya " manhal al-allathaif fi kunafah wa al-Qathaif " misalnya, terkenal gandrung dengan kunafah dan qathayif, dan melukiskan berbagai sisi kegandrungan mereka ini dalam untaian sajak dan puisi. Seminggu menjelang Ramadhan, para pembuat kunafah dan qathayif menyiapkan peralatan masak didepan toko mereka. Yang kebetulan berkunjung ke Mesir pada bulan Ramadhan tentu dapat menyaksikan pertunjukan membuat makanan khas Ramadhan ini secara langsung. Lagu – lagu Ramadhan. Diantara yang menambah maraknya suasana Ramadhan di Mesir adalah lagu – lagu yang biasa dinyanyikan oleh anak – anak di jalanan. Televisi dan radio Mesir pun tak ketinggalan memperdengarkan lagu – lagu tersebut. Berbeda dengan ditanah air lagu – lagu Ramadhan di Mesir adalah lagu – lagu rakyat dalam bahasa 'ammiyah. Selain lagu anak – anak, ada juga lagu – lagu yang biasa dinyanyikan oleh musahharati saat membangunkan kaum muslimin untuk makan sahur. Diantara lagu – lagu tersebut yang masih didendangkan sampai saat ini adalah wahawi ya wahawi, halu ya halu dan ana al musahharati. Sebagian dari lagu – lagu ini dikarang oleh Mahmud al-Hifni diakhir 60-an abad lalu. Diakhir sya'ban dan hari – hari pertama Ramadhan, Televisi dan radio Mesir biasanya menperdengarkan lagu –lagu khusus menyambut kedatangan bulan suci. Lagu ini diawali dengan bait " Ramadhan gana " (Ramadhan telah datang kepada kita) dan " ahlan Ramadhan " (Selamat datang Ramadhan). Suasana Ibadah Ramadhan sebagai bulan al-Qur'an betul – betul dapat dirasakan di Mesir. Pada bulan ini umat Islam di Mesir meluangkan banyak waktunya untuk membaca kitab sucinya. Mereka tidak hanya membaca al-Qur'an dirumah atau di mesjid, tapi juga dikendaraan dan tempat kerja. Dibus umum, subway, kereta api, bus kota, el-Tramco (semacam angkot), mobil pribadi, kantor, toko, pasar, terminal dan lain – lain kita akan mendapatkan orang berlomba – lomba membaca al-Qur'an. Secara umum mereka membaca dengan suara rendah, agar tidak mengganggu yang lain. Tapi kadang, ada yang melantunkan ayat – ayat al-Qur'an dengan suara keras dikendaraan umum, terutama yang memiki suara merdu. Penumpang lainnya sama sekali tidak keberatan dan dengan khusu' menyimak bacaan tersebut. Sepanjang bulan Ramadhan, sholat subuh dan isya' (tarawih) di mesjid – mesjid Mesir selau dipenuhi jamaah. Menjelang isya' jalan – jalan disekitar mesjid dipadati oleh kendaraan pribadi yang sedang parkir. Yang menjadi favorit adalah mesjid – mesjid besar yang dimami oleh ulama atau qori terkenal. Di mesjid – mesjid seperti ini ruang sholat biasanya tidak mencukupi. Diluar mesjid biasanya digelar karpet plastik sebagai alas sholat. tak jarang sebagian jalan yang ada disekitar mesjid ditutup dan digunakan untuk sholat. ini terutama terjadi disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, saat umat Islam berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya. Secara umum, tarawih di Mesir dilaksanakan dengan khidmat. Waktu yang digunakan untuk menyelesaikan dua rakaat tarawih tidak lebih cepat -bahkan telatif lebih lama- jika dibandingkan dua rakaat sholat biasa. Di mesjid – mesjid tertentu, Imam menyelesaikan satu juz al-Qur'an setiap malam. Setiap rakaat imam membaca 1/8 atau 1/20 juz, sesuai dengan jumlah keseluruhan rakaat tarawih yang dikerjakan (8 atau 20 rakaat). Dengan demikian, seiring dengan berakhirnya malam Ramadhan imam telah mengkhatamkan seluruh isi al-Qur'an dalam sholat tarawih. Karena waktu sholat relatif lama, setiap selesai empat rakaat biasanya diisi dengan ceramah singkat atau do'a. Sebagaimana di tanah air, memasuki separuh kedua malam Ramadhan dalam rakaat terakhir sholat witir imam membaca do'a. Hanya saja, do'a yang dibaca imam tersebut tidak sebatas do'a qunut yang kita kenal, tapi ditambah dengan do'a – do'a lain. Panjang dan redaksi do'a tersebut bervariasi, sesuai dengan kreativitas masing – masing imam. Secara umum do'a – do'a tersebut berisi permohonan pertolongan kemenangan umat Islam. Negara – negara Islam yang sedang tertindas, seperti Palestina, Irak, dan Afghanistan, sering disebut dalam do'a. Selain itu, do'a juga berisi permohonan agar Allah menghancurkan musuh – musuh Islam. Sebagian imam, terutama di mesjid – mesjid swasta, imam menyebutkan nama negara dan tokoh yang dianggap sebagai musuh Islam, seperti Amerika Serikat, Israel, Bush dan Sharon. Selain ibadah ritual, Ramadhan di Mesir juga dipenuhi dengan ibadah sosial. Bulan ini adalah bulan disaat umat Islam di Mesir berlomba – lomba untuk menjadi muhsinin (dermawan). Di mesjid – mesjid dan instansi tertentu sering diadakan pembagian sembako dan uang untuk fakir miskin dan pelajar asing (thulab wafidin). Pembagian sumbangan sudah dimulai seminggu sebelum Ramadhan. Di asrama mahasiswa asing al-Azhar (madinah al-Bu'ust), misalnya menjelang Ramadhan seorang pelaku bisnis kenamaan biasa membagi bagikan uang dalam jumlah yang cukup besar kepada penghuni asrama. Malam Ramadhan di Mesir, selain diisi dengan ibadah, diisi pula dengan berbagai kegiatan lain. Banyak instansi yang mengadakan tenda dan kafe Ramadhan yang menyajikan berbagai macam acara menarik. Para keluarga – keluarga Mesir banyak melewatkan malam Ramadhan di tenda dan kafe ini sampai waktu sahur tiba. TV Mesir biasanya juga menayangkan juga acara kafe Ramadhan. Melewatkan Ramadhan di Mesir bagi kita memang meninggalkan banyak kesan yang susah untuk dilupakan. Di antara kesan yang menarik untuk kita pedomani adalah bahwa umat Islam di Mesir nyaris tidak pernah berdebat dalam menentukan awal Ramadhan (juga awal syawal). Hal ini, sangat berbeda dengan kondisi tanah air kita. Biasanya umat Islam di Mesir baru berpuasa setelah ada pengumuman resmi dari pemerintah. Setelah itu, toleransi yang diberikan oleh umat agama lain kepada umat Islam selama bulan Ramadhan juga patut untuk diancungi jempol. Beberapa penganut kristen ortodok (Qibty) tidak hanya menghindari makan di tempat umum di siang hari, tapi juga berpuasa sebagai wujud solidaritas kepada umat Islam. Pondok Permai "Dar-es-Sa'adah", Malaysia
hanya ahli berdaftar boleh mennghantar komen!!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||
| Kemas Kini Terakhir ( Friday, 05 September 2008 ) | ||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|