|
...“Kamu adalah umat terunggul (khayra ummah) yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah daripada yang munkar dan kamu beriman kepada Allah”... (Ali 'Imran:110) Wahana Pencerahan dan Pemberdayaan Ummah |
Tamadun Islam
Isu Jilbab: Mengapa Islam Harus Dilihat Melalui Kacamata Islam Bukan Barat
|
| Khairaummah mailing list | |
|---|---|
|
| Infoteks | |
|---|---|
|
|
| Seksyen | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
| Mailing List |
|---|
| klik di sini untuk menyertai mailing list khairaummah |
| Lawatan | ||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Trafik |
|---|
| Islamictube |
|---|
|
| Statistik |
|---|
|
Ahli: 533 Artikel: 294 Pautan: 5 Pengunjung: 513389 |
| Isu Jilbab: Mengapa Islam Harus Dilihat Melalui Kacamata Islam Bukan Barat |
|
|
|
| Ditulis Oleh Khalif Muammar | ||||||
| Saturday, 24 May 2008 | ||||||
|
Baru-baru ini seorang siswi dari Surabaya memberondong saya dengan banyak persoalan mengenai jilbab. Dia bingung setelah membaca beberapa tulisan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang isinya meragukan kewajiban berjilbab. Setelah saya berikan jawapan yang ringkas ternyata siswi tersebut tidak puas dan meminta jawapan yang lebih mendalam lagi. Untuk menjelaskan perkara ini maka saya terpaksa menulis makalah ini dengan pertimbangan bahwa semakin ramai orang yang keliru akibat wacana yang dilemparkan oleh kaum liberal tersebut. Serangan terhadap ajaran Islam yang berlaku di Indonesia hari ini adalah refleksi penjajahan minda dan hegemoni budaya Barat. Seringkali seseorang itu tidak menyedari bahawa cara berfikirnya sudah tidak Islami. Setelah seorang Muslim dididik dengan pendidikan sekular lalu mempelajari Islam dengan berguru kepada Orientalis, maka ini akan menyebabkannya melihat segala sesuatu dengan kacamata atau worldview Barat. Dia tidak mampu melihat dengan kacamata Islam karena di mana-mana dia belajar dia selalu disuguhkan dengan pandangan yang tidak jelas dan keliru mengenai Islam.
Dalam kes kesetaraan gender contohnya, kekeliruan ini tampak dengan jelas sekali ketika Amina Wadud melihat bahwa pemberian qawamah (kepimpinan rumah tangga) kepada kaum lelaki adalah diskriminasi dan penindasan terhadap kaum wanita. Asumsi dasarnya adalah kepimpinan merupakan satu kemuliaan, dengan memberikannya kepada kaum lelaki berarti kaum perempuan lebih rendah martabatnya daripada kaum lelaki. Padahal dalam Islam kepimpinan tidak dilihat sebagai satu kemuliaan atau kebanggaan melainkan satu tanggungjawab dan beban. Ini berarti yang dipimpin tidak lebih rendah martabatnya berbanding yang memimpin tetapi justru yang memimpin mempunyai tanggungjawab yang lebih berat berbanding yang dipimpin. Jadi dengan cara pandang seperti ini kaum perempuan seharusnya merasa beruntung karena mereka ada tempat bergantung dalam keluarga. Tidak diangkat menjadi pemimpin berarti bebannya lebih ringan. Bahkan selama ini, sebelum kemunculan feminis, kaum wanita dalam masyarakat Islam tidak sama sekali merasa dirugikan oleh syari’at Islam. Ini karena kaum wanita sebenarnya adalah golongan yang paling beruntung karena banyak keringanan yang Allah berikan kepada mereka. Mereka tidak diwajibkan solat berjamaah dan solat jumaat di masjid, tidak diwajibkan berjihad, tidak diwajibkan menyara dan membiayai keluarga, dikecualikan daripada menjalani ibadah solat ketika datang bulan. Tanpa melakukan semua itu mereka tetap mendapat ganjaran yang sama dengan kaum lelaki. Tetapi mengapa yang terjadi hari ini adalah sebaliknya, justeru semua itu khususnya oleh kaum feminis dilihat secara terbalik, yang beruntung merasa dirugikan dan didiskriminasikan? Sudah tentu ini karena cara pandang dan kayu ukur yang digunakan adalah salah.
Di Indonesia isu jilbab menjadi semakin hangat setelah Aceh memberlakukan undang-undang menutup aurat sebagai sebagian daripada program melaksanakan Shari’ah secara bertahap. Isu yang dibangkitkan oleh kaum liberal adalah Negara tidak boleh memaksakan jilbab. Kata-kata memaksakan itu sengaja diobral untuk memberi kesan negatif daripada pelaksanaan syari’ah. Di Malaysia, Kelantan yang diperintah oleh partai Islam (PAS) sejak 28 tahun tidak mengalami tantangan yang hebat seperti yang dialami oleh Aceh dalam melaksanakan undang-undang moral. Seperti juga di Aceh, di Kelantan iklan-iklan yang kalau di tempat lain mendedahkan aurat dipakaikan jilbab atau tudung. Walaupun dari segi kemajuan material Kelantan tidak semaju negeri-negeri yang lain tetapi penghayatan Islam tampak lebih baik dibanding negeri-negeri lain. Pemerintah yang ingin melaksanakan Islam di Aceh dan Kelantan menyedari bahwa negara mempunyai tanggungjawab melaksanakan kewajiban amar makruf nahi munkar. Pemerintah bertanggungjawab memastikan agar agama dan moral masyarakat terpelihara. Tidak seperti negara sekular yang hanya memikirkan pembangunan material. Pembangunan pincang ini akhirnya menyebabkan gejala sosial dan jenayah meningkat. Kemudian yang lebih memperparah keadaan adalah sikap mereka yang membelakangi solusi yang diberikan oleh Islam. Mereka berpikir jika kriminalitas dan gejala sosial meningkat maka solusinya adalah memperbanyakkan polisi, dengan memperuntukkan lebih bayak wang, yang bisa mengawal dan mengawasi masyarakat dengan lebih baik lagi. Mereka memperkecilkan kawalan dalaman yang dicanangkan oleh Islam. Langkah-langkah preventif yang disuguhkan oleh Islam tidak dihiraukan. Islam menekankan pembentukan masyarakat yang sopan dan bertanggungjawab. Menekankan pentingya batasan dalam pergaulan khususnya antara lawan jenis. Antara alasan yang dikemukakan oleh Muhammad Said al-Ashmawi, dalam bukunya Kritik Atas Jilbab (JIL, 2003), untuk meragukan kewajiban jilbab adalah bahwa ayat jilbab dalam al-Qur’an (al-Ahzab: 59 dan dengan sengaja membelakangi surah al-Nur: 30-31) itu bersifat kondisional, elitis, politis dan diskriminatif. Kondisional karena setelah perang Khandaq keamanan umat Islam tergugat. Bersifat politis karena ia diturunkan untuk membendung politik munafikin setelah peristiwa al-ifk. Bersifat elitis dan diskriminatif karena ayat tersebut bertujuan untuk membedakan antara perempuan merdeka dengan perempuan hamba. Atas alasan-alasan ini jilbab tidak boleh diaplikasikan pada zaman sekarang. Kesimpulan Ashmawi di atas terhasil daripada metodologi khusus yang sekarang banyak digunakan oleh kaum liberal. Ia adalah metodologi historisitas yang selama ini digunakan oleh Barat dalam mengkaji ajaran Kristen termasuk yang paling penting adalah Bibel. Sejak tahun 60an Fazlur Rahman, mengikuti sebagian Orientalis, telah menggunakan metode historisitas ini dalam bukunya Islamic Methodology in History untuk meragukan autoritas al-Sunnah dan al-Ijma’. Dalam kajian historis ini mereka akan membelakangi normativitas. Atas dasar ini mereka akan mengkritik apa saja dan siapa saja termasuk nabi Muhammad dan al-Qur'an. Karena dalam sejarah yang bersifat immanen tiada sesuatu pun yang suci (sakral), sesuatu yang sakral hanya wujud dalam ruang keagamaan yang transenden. Setiap suruhan agama itu dilihat sebagai produk budaya, sejarah dan ulamalah yang bertanggungjawab menciptanya. Tidak ada yang benar-benar produk Tuhan. Bahkan menurut Nasr Abu Zayd al-Qur’an adalah produk budaya. Secara dikotomis Abu Zaid memisahkan antara sesuatu yang ilahi dengan yang insani. Mustahil bagi pemikiran dikotomis ala Barat ini produk Tuhan (ilahi) berada dalam alam manusia. Bagi mereka suruhan Tuhan itu apabila berada dalam ruang dan waktu dan seutuhnya dijelmakan dalam kehidupan manusia tidak lagi menjadi produk Tuhan. Jadi premis yang digunakan adalah sama dengan premis sarjana-sarjana Barat yang mengatakan bahwa agama adalah produk budaya. Comte antaranya menyebut bahwa agama adalah satu tahap kematangan masyarakat tertentu dan muncul hasil evolusi yang pada kemuncaknya hari ini telah diganti oleh positivisme. Agama yang mereka perkatakan ini sudah tentu bukan Islam yang bagi kita jelas kemurnian dan keasliannya sejak dari awal kemunculannya. Jadi, menurut Barat dan kaum liberal, agama secara tidak langsung mesti tunduk kepada rasionalitas manusia. Mereka akan mempersoalkan mengapa perlu mengikut perintah Tuhan pada masa lalu sedangkan kita hidup pada masa ini? Sedangkan umat Islam berfikir: perintah Allah kepada umat Islam di waktu itu berlaku juga kepada umat Islam di waktu ini kerana al-Qur'an diturunkan bukan untuk masa tertentu saja bahkan ia adalah panduan bagi kehidupan manusia sepanjang masa. Jadi mereka menolak bahawa al-Qur'an, yang didalamnya mengandungi suruhan dan undang-undang, itu "perlu diikuti" (aspek normativitas). Dalam Islam kita tidak memisahkan historisitas dengan normativitas. Rasulullah yang disaksikan dalam sejarah tidak berbeda atau bercanggah dengan Rasulullah yang dijelaskan dalam agama. Beberapa peristiwa, seperti isra’ mi’raj, mungkin tidak mampu difahami oleh akal fikiran manusia tetapi ia tetap mungkin berlaku karena iradah Allah. Kajian historisitas ini wajar dikembangkan dalam agama Kristen karena banyak percanggahan dan mitos dalam agama Kristen. Aspek normativitas tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan daripada Islam. Bagaimana seseorang bisa menjadi orang yang beriman kalau ia tidak mengikut perintah Allah? Dengan dalih berpegang kepada maqasid al-shari’ah (prinsip-prinsip Syari’ah) kaum liberal mengatakan bahwa esensi kewajiban berjilbab adalah kesopanan dalam berpakaian. Oleh itu yang penting adalah kefahaman terhadap standar kepantasan umum (public decency) dan pembentukan akal budi. Di sini mereka telah mendangkalkan jilbab sebagai formalitas kosong. Padahal dalam aturan tersebut ada spirit atau ruh untuk menjaga kesucian kaum wanita. Kalaupun ia adalah luaran dan kesopanan itu adalah dalaman maka kita tidak boleh mengabaikan luaran dengan menumpukan hanya kepada dalaman. Islam memberi perhatian yang seimbang terhadap kedua aspek exoteric dan esoteric. Institusi-institusi Islam harus didirikan di samping juga ketaqwaan dan kesalehan. Kedua-dua aspek luaran dan dalaman itu saling mempengaruhi dan penting dalam kehidupan manusia. Solat itu mesti didirikan walaupun seseorang itu telah memiliki taqwa. Pada saat dia meninggalkan solat maka ketaqwaannya juga dianggap hilang. Kaum liberal mempunyai sikap curiga terhadap segala bentuk pelaksanaan syari’at Islam. Kecurigaan ini ada hubungannya dengan Islamophobia yang telah menyebar di seluruh dunia. Mereka curiga dan mempunyai andaian-andaian yang negatif terhadap segala ajaran Islam tanpa menyelidiki dengan teliti asumsi-asumsi tersebut. Jilbab, seperti ditulis oleh Ulil Absar, adalah satu bentuk kungkungan terhadap kaum wanita. Ia dilihat sebagai kendala bagi kemajuan dan pembangunan kaum wanita. Ini adalah tipikal cara berfikir kaum modernis di Barat. Suruhan agama dianggap penghalang kemajuan. Mayoritas masyarakat Barat tidak menghormati tradisi. Untuk maju seseorang perlu meninggalkan tradisi. Selagi seseorang masih mengamalkan tradisi, yang didalamnya agama, maka dia tidak dianggap moden dan maju. Kita perlu bersikap kritis dan meneliti kebenaran asumsi-asumsi seperti ini. Apakah benar agama, dalam konteks ini Islam yang sudah tentu sangat berbeda dengan ajaran Kristen, menjadi penghalang kemajuan? Apakah Islam melarang perempuan berkerja? Keluar rumah untuk aktiviti yang penting seperti menuntut ilmu, urusan bisnis, tugas dsb? Ternyata Islam yang difahami oleh mayoritas ulama tidak begitu. Hanya satu golongan konservatif yang berfikiran seperti itu. Di Malaysia, masyarakat Islam mempunyai kesadaran bertudung yang relatif tinggi. Ramai artis yang memilih untuk bertudung dan tidak merasakan ada apa-apa risiko terhadap karier mereka. Wardina Safiyyah, Siti Nurhaliza, Fauziah Ahmad Daud dll. tetap popular dan laku walaupun penampilan mereka semakin sopan. Seorang pekerja bawahan di syarikat multinasional di Kuala Lumpur pernah mengambil tindakan mahkamah terhadap syarikatnya yang bertindak memecatnya kerana dia memakai tudung. Masyarakat di sini tahu hak mereka dan tidak tunduk kepada tekanan golongan kapitalis. Sebaliknya syarikat-syarikat gergasi itu yang terpaksa tunduk dan menghormati hak-hak orang Islam untuk melaksanakan ajaran Islam. Jika diteliti dan dilihat dari kacamata Islam, justru Islam telah memuliakan kaum wanita. Islam telah mengharamkan pembunuhan anak perempuan (wa’d al-banat) atas alasan membawa kehinaan. Memuliakan kaum ibu. Mengurangkan beban kaum wanita dengan membagikan tugas dan peranan dalam rumah tangga. Memberikan hak mendapatkan pendidikan sama seperti lelaki. Memberikan persamaan dalam pahala dan ganjaran walaupun beban tugas masing-masing berbeda. Inilah kesetaraan gender dalam Islam. Kesetaraan gender bukan berarti penyamarataan dalam segala bidang seperti yang difahami oleh kaum Feminis. Islam mementingkan keadilan. Keadilan adalah tonggak utama dalam ajaran Islam. Untuk bersikap adil kita perlu meletakkan sesuatu pada tempatnya. Jika diperhatikan bukan tempat perempuan menjadi Imam, menjadi khalifah dan menjadi kepala tentara. Bukan tugas perempuan menjadi kepala rumahtangga. Semua ini tidak diberikan kepada kaum perempuan karena ia tidak sesuai dengan fitrah kejadian kaum hawa. Modernitas hari ini telah meletakkan perempuan menjadi bahan tarikan kaum lelaki melalui iklan-iklan yang mendedahkan aurat. Dan ini berarti kehinaan dan bukan kemuliaan. Karena ia menjadi alat pelaris komoditas yang akan menguntungkan kaum kapitalis. Kemuliaan kaum wanita semakin jelas dengan pensyariatan jilbab. Dengan diwajibkannya kaum perempuan berjilbab mereka dilindungi daripada “pandangan liar” kaum lelaki. Sebagian kaum liberal, seperti Fatima Mernissi, akan selalu mencoba membongkar titik kelemahan Islam dalam hal kesetaraan gender. Mereka mengatakan jika kaum lelaki yang bermasalah dengan kawalan nafsunya kenapa kaum perempuan yang harus menanggung beban masalah tersebut. Di sini jelas wujud nuansa kepentingan-diri dan keakuan dalam wacana feminisme: “Its your problem, not mine”. Sedangkan dalam Islam, yang ditekankan adalah kesalingan dan kebersamaan. Semestinya ada kesadaran daripada kaum wanita sendiri untuk melindungi diri sendiri, mempunyai sifat iffah, kesucian diri, menjaga kehormatan diri dan memiliki integritas yang tinggi. Sudah tentu semua pihak perlu memainkan peranan masing-masing barulah hasil yang didambakan bisa direalisasikan. Kesalingan dan kerjasama ini tampak diharapkan dalam ayat Jilbab (al-Nur:30-31): “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. Tidak sedikit juga yang berpendapat bahwa jilbab sebenarnya adalah adat dan bukan suruhan agama. Nasarudin Umar yang menyambung tesis Cak Nur misalnya mengatakan bahwa jilbab telah dikenal oleh masyarakat sebelum Islam. Kalaupun ia memang wujud sebelum Islam itu tidak berarti Islam meniru mereka dan ia bukan sebagian dari syari’at Islam. Sebagian syari’at, seperti qisas dan haji, memang mempunyai asal-usulnya daripada tradisi agama lain tetapi Islam telah menyempurnakan, memperbarui dan menegaskannya kembali. Menciptakan segala sesuatu yang baru seutuhnya adalah sama sekali tidak perlu. Ini satu tuntutan yang tidak wajar terhadap Islam. Jika yang sudah ada itu baik maka tidak salah untuk dikekalkan dan dilanjutkan. Walaupun demikian jilbab tetap merupakan syari’at Islam, kerana ada sandaran hukumnya dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Jilbab adalah suruhan agama yang telah diterima oleh masyarakat Arab sejak zaman berzaman. Ia telah membudaya dan menjadi sebagian dari identiti masyarakat Arab. Ia bukan adat yang hanya dilakukan atas dasar kebiasaan dan warisan nenek moyang. Ia dilakukan, dan perlu sentiasa dilakukan, atas dasar kesadaran mengikuti perintah Allah dan bukan ikut-ikutan. Seperti juga puasa, bila tiba bulan Ramadan semua umat Islam akan berpuasa, ada yang menganggapnya sebagai satu kebiasaan, namun ini tidak menjadikan ibadah puasa itu adat. Ia tidak boleh dianggap sebagai adat karena seseorang itu perlu malaksanakannya dengan penuh keinsafan bahwa dia melaksanakan suruhan Allah. Berlainan dengan jubah untuk lelaki dan kot untuk masyarakat Barat. Jubah dan jas atau coat adalah adat dan kebiasaan sesebuah masyarakat kerana tidak ada perintah agama (nas) mengenainya dan tidak dihitung sebagai ibadah. Yang jelas kita tidak wajib menerima moderniti yang disuguhkan oleh Barat. Jika kaum liberal ingin menerima modernitas itu hak mereka, tetapi jangan memaksakannya terhadap umat Islam. Karena ini berarti mereka ingin memaksakan kehendak mereka terhadap orang lain. Alhamdulillah Umat Islam masih mempunyai rasa sayang terhadap tradisi. Umat Islam masih memiliki kesadaran beragama yang kuat. Sehingga tidak mudah meninggalkan suruhan agama khususnya dalam hal ini adalah berjilbab atau bertudung. Sangat dikhuatirkan, suara-suara protes terhadap jilbab ini sebagian dari program memasarkan pemikiran, cara hidup dan budaya Barat. Cukuplah hegemoni Barat terhadap umat Islam yang hari ini banyak merugikan umat Islam. Nilai-nilai moden Barat, seperti kebebasan dan pergaulan bebas, tidak perlu dipasarkan dan dipaksakan oleh orang-orang Islam sendiri. Umat Islam memiliki nilai-nilai Islam yang sebenarnya cukup untuk memajukan dan mengangkat martabat manusia. Pada kenyataannya nilai-nilai Islam (Islamic values) dibiarkan terkubur dan tidak mendapat tempat di hati masyarakat hari ini. Kaum liberal seharusnya membiarkan umat Islam bebas melaksanakan syari’at Islam. Umat Islam menginginkan kebebasan dan kemerdekaan dalam beragama, bernegara dan bermasyarakat. Mereka tidak mahu diganggu dan digugat hak mereka dalam melaksanakan suruhan agam, baik gangguan itu datang daripada Barat mahupun melalui organisasi yang berlabelkan Islam. Mereka sedar mereka mempunyai tanggungjawab amar makruf nahi munkar yang akan Allah pertanggungjawabkan. Mereka adalah orang-orang yang masih kuat berpegang kepada ajaran agama dan selayaknya mereka dihormati sedemikian. Kaum liberal yang terdidik dengan cara berfikir dan cara hidup Barat tidak akan memahami kebijaksanaan Islam. Mereka akan sentiasa melihat dari kacamata yang salah dan menyalahtafsirkan syari’at Islam. Penilaian yang objektif terhadap Islam hanya dapat dilakukan jika seseorang itu membuang elemen-elemen sekular dalam pemikiran mereka dan tidak diracuni oleh modernitas Barat. *Penulis adalah Felo Penyelidik/Peneliti di Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), UKM
hanya ahli berdaftar boleh mennghantar komen!!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||
| Kemas Kini Terakhir ( Tuesday, 03 June 2008 ) | ||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|