Khairaummah mailing list
  • (no subject)
    Afwan kirim konfirmasi dari facebook faza fatiha
  • Fwd: Two Moons on 27th August 2010
    -KM- Begin forwarded message: --- On Tue, 24/8/10, wanzul wan daud < Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya > wrote: From: wanzul wan daud < Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya > Subject: Fw: Two
  • Fw: Undangan ke Siri Wacana ATMA
    ... From: " Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya " < Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya > To: Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya ; Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya ; Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya ; Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya ; Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus menghidupkan JavaScript untuk melihatnya ;
  • Wacana Fikir ATMA 8 Julai
    Salam, Untuk sesiapa yang berminat. Wacana Fikir ATMA Tajuk: ?Islamisasi Ilmu Pengetahuan Semasa: Sejarah dan Perkembangannya? Pembentang: YBhg. Profesor
  • Artikel tentang Penarafan Universiti
    Utusan Malaysia 25/5/2010 Apa sebenar penarafan universiti sedunia? Oleh Prof. Dr. Arndt Graf Debat tentang penarafan universiti sedunia sedang semakin hangat,
Infoteks

Ingin menulis di laman web ini?

Pelawat yang telah berdaftar akan dinaik-taraf sebagai penulis oleh admin. Sebagai penulis, menu hantar artikel akan wujud di bahagian menu pengguna. Artikel yang dihantar akan disemak oleh editor dan diluluskan untuk terbit sekiranya memenuhi kriteria laman web ini.

Pelawat juga boleh menghantar artikel ke arief_rf@yahoo.com




Mari boikot produk 
Israel/Yahudi
Hentikan menyokong kekejaman
Israel terhadap umat Islam
 
"it is an obligation not to help them
(the enemies of Islam) by buying
their goods. To buy their goods
is to support tyranny, oppression
and aggression" -Yusuf al-Qardawi
 
 






Ingin mengiklankan aktiviti / produk anda di sini? sila hubungi kami... email: arief_rf@yahoo.com

Ruangan forum dan komen artikel telah dibuka untuk semua pengunjung. Sila gunakan ruang tersebut dengan sebaiknya.  

Admin




Seksyen
Fikih Kebangkitan
Tamadun Islam
Pemikiran Islam
Dunia Islam
Tokoh Islam
Hawa
English Section
Puisi
Ulasan Buku
Mailing List
klik di sini untuk menyertai mailing list khairaummah
Lawatan
Hari ini: 11
Semalam: 63
Sebulan: 1120
Jumlah: 95687
Maks sehari: 291
Maks sebulan: 5822
Kiraan Sejak: 2008-08-07
Totals Top 10
 62 % Malaysia (60833)
 18 % Indonesia (17644)
 5 % United States (4432)
 2 % Japan (2164)
 2 % China (2092)
 < 1.0 % Germany (1234)
 < 1.0 % Unknown (1003)
 < 1.0 % United Kingdom (880)
 < 1.0 % Singapore (834)
 < 1.0 % Russian Federation (669)
95687 visits from 132 countries
Trafik
Islamictube
boycott_israel_275x275.gif
Statistik
Ahli: 533
Artikel: 294
Pautan: 5
Pengunjung: 515658
Liberalisme dan Penodaan Agama PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Qasim Nursheha Dzulhadi   
Wednesday, 13 February 2008
Liberalisme dan Penodaan Agama
 
Isu penodaan agama hingga hari ini masih menjadi isu penting. Bukan hanya banyak ‘penggemarnya’ , tapi juga dijadikan komoditi komersial. Kaum orientalis dan para pemikir liberal-sekular merupakan kelompok yang ‘hobi’ melakukannya.
Bahkan, secara terang-terangan mereka membela habis-habisan penodaan terhadap agama ini. Alasan klasik yang selalu mereka tampilkan adalah “kebebasan berekspresi”.
 
Kisah Klasik The Satanic Verses
 

Seorang aktivis liberal Indonesia, Luthfie Assyaukanie dalam bukunya Islam Benar versus Islam Salah (Depok: Kata Kita, I, 2007: 107-108) membela Salman Rushdie. Luthfie menyatakan: “Gelombang protes dari Iran, Pakistan, hingga Malaysia terhadap penganugerahan gelar bangsawan Inggris untuk Salman Rushdie mengejutkan kita, betapa kaum Muslim belum bisa melupakan dan memaafkan pengarang Ayat-Ayat Setan itu. Meski protes itu tidak sebesar 20 tahun silam ketika Rushdie difatwa mati oleh Ayatullah Khomenei, gelombang protes itu tetap menyentak betapa kaum Muslim tak pernah bisa mentolerir hal-hal yang mereka pandang sebagai “penodaan agama”. Nama Salmah Rushdie, bagaimanapun tidak bisa dilelepaskan dengan novelnya yang dinggap telah menghina Islam itu. Reaksi kaum Muslim itu melengkapi daftar panjang  kasus-kasus menyangkut hubungan Islam dan kebebasan berekspresi.”
  Jadi, menurut Luthfi, The Satanic Verses (1988) karya Rushdie adalah salah satu bentuk dari “kebebasan berekspresi”. Karena itu, tidak boleh dicurigai, dilarang dan –tidak boleh—dibredel. Meskipun novel Rushdie melukai dan ‘menyakiti’ perasaan umat Islam, harus tetap dibela dan dijunjung tinggi. Kasus Satanic Verses Rushdie oleh Luthfi dikomparasikan dengan kasus novel The Da Vinci Code karya Dan Brown. Setelah memaparkan bagaimana usaha Karen Amstrong dalam memperbaiki citra Islam, Luthfie memberikan catatan: “Apalagi jika kita membandingkan respon kaum Muslim dengan respon serupa dalam dunia Kristen atau agama-agama lain, kelihatan betul bahwa kaum Muslim tampak sangat berlebihan. Kita tidak pernah mendengar, misalnya, Vatikan atau lembaga-lembaga otoritatif agama Kristen, mengeluarkan semacam fatwa mati pada Dan Brown, pengarang Kode Da Vinci. Kita juga tidak melihat aksi-aksi kekerasan dan kebrutalan yang dipertontonkan kaum Kristen ketika merespon novel itu.” (ibid: 109). Luthfi juga merasa ‘kebakarang jenggot’ ketika Wahid Institute (Jakarta Post, 23/6/2007) yang mengeluarkan pernyataan yang mendukung kemarahan kaum Muslim terhadap pemberian gelar bangsawan terhadap Salman Rushdie. (ibid: 111).
 
Jika dipertanyakan: prestasi apa dan jasa apa yang dicapai oleh Rushdie, sehingga harus meraih gelar “kebangsawanan” ? Apakah “menodai agama” dan “menyakiti perasaan kaum Muslim” merupakan prestasi besar yang harus mendapatkan penghargaan prestisius? Cara berpikir Luthfi ini aneh alias “keblinger”. Dia hanya melihat dari sisi “kebebasan berkespresi”. Dia lupa dengan adagium terkenal, yang juga dikutip oleh pemikir pujaannya, Cak Nur, bahwa hurriyatul mar’i mahdudatun bihurriyati ghayrihi, ‘kebebasaan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang lain’. Tidak ada kebebasan –di dalam agama apapun—yang tanpa kontrol. Sama sekali tidak ada. Menyikapi isu “heretisme” pun, Kristen Katholik Indonesia ‘menelurkan’ satu buku, Selilit Sang Nabi: Bisik-bisik Aliran Sesat (Jogyakarta: Kanisius, I, 2007). Dalam buku ini penulisnya memaparkan bagaimana aksi Gereja “membungkam” sejumlah aksi gerakan menyimpang (heretic) dan bertentangan dengan doktrin dan dogma Gereja.
 
Kasus Dan Brown, memang tidak sampai –Vatikan, misalnya—dikeluarkan fatwa mati seperti kasus Rushdie. Tapi gelombang protes terhadapnya tidak kecil. Di Mesir, majalah-majalah dan tulisan-tulisan para pendeta biasanya memulai tulisan mereka dengan kata “Mujarrad al-riwayah”, ‘hanya sekedar novel’. Di sini saja sudah ada ‘pembunuhan karakter’. Dimana para pembaca sudah dicekoki bahwa novel Dan Brown tidak ada apa-apanya, tidak perlu dipercaya karena hanya “sekedar novel”. Di Indonesia, pemikir Kristen yang sangat getol ‘membabat habis’ Dan Brown adalah Bambang Noorsena. Dua tulisannya mengulas tentang The Da Vinci Code.
 
Kasus Satanic Verses Rushdie sebenarnya perpanjangan tangan dari usaha orientalis dalam menanamkan kebencian mereka terhadap Islam. Kisah gharaniq (tiga dewi yang disembah orang Arab) merupakan cikal-bakal lahirnya Satanic Verses. Barnaby Rogerson, dalam bukunya The Prophet Muhammad: A Biography (‘ Biografi Muhammad’, (terj) Asnawi, (Jogyakarta: Diglossia, IV, 2007: 103-104), setelah berkisah tentang kewajiban Nabi SAW dalam mendakwahkan Islam, mencatat: “Ini adalah periode yang mengerikan bagi Nabi. Dukungan dan simpati yang telah dengan susah payah dibangunnya selama empat tahun lalu, di Makkah yang dicintainya, menguap dalam semalam. Dia ingin sekali menyatukan Makkah di bawah peringatan-peringat an Ilahinya. Hal terakhir yang diinginkannya ialah menjadi pemimpin sebuah kelompok terpisah di dalam Quraisy. Pada periode kritis inilah insiden yang dikenal di dunia Barat sebagai ‘Ayat-ayat Setan’ mungkin terjadi. Dari empat penulis pertama biografi Muhammad, hanya dua menyebutkannya. Para ulama jarang menyebutnya, tapi setelah novel Salman Rushdie tahun 1988, The Satanic Verses, mustahil kita akan mengabaikannya.”
 
Benar bahwa kisah gharaniq banyak dikritisi oleh para ulama, karena menodai ayat-ayat Al-Qur’an dan kemurnian tauhid Nabi SAW. Hal ini pun diakui oleh penulis simpatik tentang Islam, Karen Amstrong, di dalam bukunya Muhammad: A Biography of the Propet. Amstrong menyatakan bahwa kisah gharaniq (Ayat-ayat Setan) adalah tidak benar, karen buku sirah paling awal dan otentik, al-Sirah al-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam tidak menyebutkannya. Saya sendiri “membolak-balik” lembaran buku sirah yang sangat berharga itu. Dan memang tidak ditemukan kisah gharaniq. Yang mencantumkan kisah tersebut salah satunya adalah Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H). Dan kita tahu, Ibnu Jarir al-Thabari merupakan sejarawan dan penafsir Muslim yang harus diwaspadi buku-bukunya –khususnya sejarah dan tafsir—karena kemungkinan besar mengandung kisah-kisah Isra’iliyat.
 
Penodaan Agama: dari Watt sampai Gus Dur   
 

William Montgomary Watt merupakan pendukung adanya kisah gharaniq dalam Al-Qur’an. Dia menegaskan hal itu dalam bukunya Muhammad, Prophet and Statesman (Muhammad, Nabi dan Negarawan, (terj) Djohan Effendi, (Depok: Mushaf, I, 2006: 80-88). Setelah bercerita tentang ‘Ayat-ayat Setan’, Watt mencatat: “Baik kita terima cerita itu ataupun kita tolak –dan mungkin di dalamnya terdapat sedikit kebenaran—tampaknya pasti bahwa Muhammad mengucapkan ‘ayat-ayat setan’ sebagai bagian dari Al-Qur’an, dan belakangan membacakan wahyu lain yang menghapuskannya.”
 
Apa yang dilakukan oleh Watt jelas penodaan agama. Dan ketika berbicara tentang kisah gharaniq (Ayat-ayat Setan) itu, tampaknya sengaja dia tidak mengutip al-Sirah al-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam. Kemudian, kisah palsu ‘Ayat-ayat Setan’ (gharaniq) itupun akhirnya diluruskan oleh Karen Amstrong.
 
Berbeda dengan Watt, penulis liberal wanita yang paling berani adalah Irshad Manji. Penulis asal Kanada itu menganjurkan kepada Barat agar tidak takut untuk mengkritik Islam. Hal itu tampak jelas dalam bukunya The Trouble With Islam Today: A Muslim’s Call for Reform in Her Faith. (http://swaramuslim. net/more. php?id=A5364_ 0_1_0_M). Seperti biasa, ide-ide miring seperti ini akan mendapat dukungan dari kaum liberal. (Lihat, Ulil Abshar-Abdalla, Irshad Manji di:  http://islamlib. com/id/index. php?page= article&id=828). 
Ide konyol tentang free-sex pun diasongkan oleh Muhammad Syahrur. Menurutnya “kumpul kebo” adalah “legal”, yang penting “sama-sama mau”. (http://hidayatullah .com/index. php?option= com_content&task=view&id=6266&Itemid=1). Beberapa waktu lalu, Gus Dur sempat membuat heboh umat Islam Indonesia. Dia menyatakan bahwa kitab suci paling “porno” adalah “Al-Qur’an”. Hanya karena Al-Qur’an menyebutkan cara “menyusui”, dengan enteng Gus Dur menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah “Kitab Porno”.
 
Hemat saya, kasus-kasus penodaan terhadap agama tidak bisa didiamkan begitu saja. Salah kaprah orang yang menganggap bahwa penodaan terhadap agama sebagai “kebebasan berekspresi”. Islam tidal melarang umatnya untuk berekspresi. Syaratnya adalah “kebebasan” yang tidak “kebablasan”. Kasus-kasus di atas sejatinya “imbas negatif” dari liberalisasi dan liberalisme pemikiran. Dengan ‘modal’ kebebasan berekspresi setiap orang dianjurkan untuk mengatakan apa saja tentang Islam, meskipun “menodai” ajaran-ajarannya.
 
Akhirul kalam, saya kutipkan bait-bait syair Jalaluddin Rumi (w. 1273 M) dalam bukunya Matsnawi: Senandung Cinta Abadi, (terj) Abdul Hadi W.M, (Yogyakarta: Bentang, I, 2006, vol. I: 121-122):
 
“Dia yang membuat mencong mulutnya sendiri dan menyebut nama Ahmad (Muhammad) sambil mengejek Rasulullah: mulutnya kelak akan terus mencong.
            Dia kembali sambil berkata, “Maafkan aku, ya, Muhammad, wahai kau pemilik karunia pengetahuan rahasia dari Tuhan.
            Dalam ketololanku aku telah mengejekmu, tapi sebenarnya aku sendirilah yang patut diejek dan mendapat hukuman.”
            Jika Tuhan berkehendak mengoyak cadar penutup muka seseorang (membuat merasa malu), maka Dia balikkan sifat-sifat hati orang itu sehingga berani mencerca orang suci.
            Jika Tuhan berkehendak menolong kita, maka Dia balikkan sifat-sifat hatinya sehingga meratap dalam kehinaan.
            O, berbahagialah mata meratap karena melayani kehendak-Nya! O, beruntunglah kalbu yang terbakar demi kehendak-Nya!
            Punya setiap ratapan ialah tawa riang; orang yang melihat ke depan ialah hamba yang diberkahi.
            Di mana air mengalir, tetumbuhan mengembang hijau; ke mana air tercurah, kasih Tuhan akan tumbuh.
            Mengeranglah dan sirami mata seperti kisi-kisi air, agar rumpun hijau tumbuh dari taman jiwamu.
            Jika kauinginkan air mata, milikilah rasa kasih pada orang yang mengucurkan air mata; jika kau menginginkan kasih sayang, tunjukkanlah kasih sayangmu kepada si lemah.”
 

 

Dari Salman Rushdie hingga Tempo
 
Masih hangat dalam memori umat Islam kasus The Satanic Verses (1988) karangan Salman Rushdie. Novel yang ‘melukai’ hati dan perasaan umat Islam itu masih sangat membekas. Bagaimana tidak, seorang Rasul yang agung, Muhammad SAW, dilecehkan. Tentu saja ini tidak dapat diterima.
 
Kisah “penodaan agama” ini membangkitkan kembali ‘memori kebencian’ umat Islam terhadap Salman Rushdie. Gelar ‘SIR’ bagi Rushdie tidak dapat dibenarkan oleh umat Islam. Namun begitu pun, masih ada seorang Muslim yang menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Rushdie merupakan aksi “kebebasan berekspresi”. Luthfi Assyaukanie, seorang aktivis JIL, menulis dalam bukunya:
“Gelombang protes dari Iran, Pakistan, hingga Malaysia terhadap penganugerahan gelar bangsawan Inggris untuk Salman Rushdie mengejutkan kita, betapa kaum Muslim belum bisa melupakan dan memaafkan pengarang Ayat-Ayat Setan itu. Meski protes itu tidak sebesar 20 tahun silam ketika Rushdie difatwa mati oleh Ayatullah Khomenei, gelombang protes itu tetap menyentak betapa kaum Muslim tak pernah bisa mentolerir hal-hal yang mereka pandang sebagai “penodaan agama”. Nama Salmah Rushdie, bagaimanapun tidak bisa dilelepaskan dengan novelnya yang dinggap telah menghina Islam itu. Reaksi kaum Muslim itu melengkapi daftar panjang kasus-kasus menyangkut hubungan Islam dan kebebasan berekspresi.”
 

Jadi, menurut Luthfi, The Satanic Verses karya Rushdie adalah salah satu bentuk dari “kebebasan berekspresi”. Karena itu, tidak boleh dicurigai, dilarang dan –tidak boleh—dibredel. Meskipun novel Rushdie melukai dan ‘menyakiti’ perasaan umat Islam, harus tetap dibela dan dijunjung tinggi. Kasus Satanic Verses Rushdie oleh Luthfi dikomparasikan dengan kasus novel The Da Vinci Code karya Dan Brown. Setelah memaparkan bagaimana usaha Karen Amstrong dalam memperbaiki citra Islam, Luthfie memberikan catatan: “Apalagi jika kita membandingkan respon kaum Muslim dengan respon serupa dalam dunia Kristen atau agama-agama lain, kelihatan betul bahwa kaum Muslim tampak sangat berlebihan. Kita tidak pernah mendengar, misalnya, Vatikan atau lembaga-lembaga otoritatif agama Kristen, mengeluarkan semacam fatwa mati pada Dan Brown, pengarang Kode Da Vinci. Kita juga tidak melihat aksi-aksi kekerasan dan kebrutalan yang dipertontonkan kaum Kristen ketika merespon novel itu.” (ibid: 109). Luthfi juga merasa ‘kebakarang jenggot’ ketika Wahid Institute (Jakarta Post, 23/6/2007) yang mengeluarkan pernyataan yang mendukung kemarahan kaum Muslim terhadap pemberian gelar bangsawan terhadap Salman Rushdie. (ibid: 111).
Umat Islam tidak boleh lupa, bahwa The Satanic Verses adalah kisah yang berulang dari “penodaan agama”. Barnaby Rogerson, dalam bukunya The Prophet Muhammad: A Biography (‘ Biografi Muhammad’, (terj) Asnawi, (Jogyakarta: Diglossia, IV, 2007: 103-104), setelah berkisah tentang kewajiban Nabi SAW dalam mendakwahkan Islam, mencatat: “Ini adalah periode yang mengerikan bagi Nabi. Dukungan dan simpati yang telah dengan susah payah dibangunnya selama empat tahun lalu, di Makkah yang dicintainya, menguap dalam semalam. Dia ingin sekali menyatukan Makkah di bawah peringatan-peringat an Ilahinya. Hal terakhir yang diinginkannya ialah menjadi pemimpin sebuah kelompok terpisah di dalam Quraisy. Pada periode kritis inilah insiden yang dikenal di dunia Barat sebagai ‘Ayat-ayat Setan’ mungkin terjadi. Dari empat penulis pertama biografi Muhammad, hanya dua menyebutkannya. Para ulama jarang menyebutnya, tapi setelah novel Salman Rushdie tahun 1988, The Satanic Verses, mustahil kita akan mengabaikannya.”
 

Tempo Diprotes
 

Cover majalah tempo paling anyar (4-10 Februari 2008) pun diprotes. Pasalnya, cover tersebut menganalogikan keluarga besar Pak Harto dengan The Last Supper, karya Leonardo Da Vinci. (http://swaramuslim. com/more. php?id=5852_ 0_1_0_M). Maka wajar dan wajib, jika umat Katolik Indonesia “memprotes” majalah Tempo, karena memang sudah melakukan “penodaan agama”.  
Hemat penulis, penodaan agama dalam agama apa pun tidak dapat ditolerir. Dia menyangkut masalah inti ajaran suatu agama. Dalam Islam, pencela dan penghina Nabi SAW hukumannya adalah al-qatl alias bunuh. Jadi, fatwa mati Ayatullah Khomenei benar-benar relevan untuk “kepala Rushdie”. Penulis tidak memungkiri adanya nilai positif di balik kenekatan Rushdie. Rushdie juga ‘berjasa’ dalam membangkitkan kecintaan umat Islam kepada nabi mereka. Kecintaan kepada Nabi SAW harus diutamakan oleh setiap Muslim. Bukankah Nabi SAW bersabda, “Kalian tidak dianggap beriman (sempurna iman kalian) sampai aku lebih dia cintai dari orangtua dan anaknya serta seluruh manusia.” Oleh karena itu, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengekspresikan “kecintaannya” yang mendalam kepada kanjeng Nabi SAW lewat bukunya al-Sharim al-Maslul ‘ala Syatimi al-Rasul (‘Pedang Terhunus atas Penghina Rasul’).
Kebebasan berekspresi tentu sah-sah saja. Tapi jika sampai mengusik ajaran sakral dalam satu agama, maka ia dianggap sebagai “penodaan”. Tentunya tidak ada kebebasan yang tanpa batas. Kebebasan kita selalu dibatasi oleh kebebasan orang lain, hurriyatul mar’i mahdudatun bi hurriyati ghayrihi. Ini kaidah paten dalam “kebebasan”. Dan memang tidak layak “kebebasan” berujung dengan “kebablasan”.
 


 

Komen
Carian
hanya ahli berdaftar boleh mennghantar komen!!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Kemas Kini Terakhir ( Monday, 25 February 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >